Laman

Minggu, 14 April 2013

Ujian untuk Sang Pemegang Lempeng

Dari atas wuwungan tertinggi tempat kediaman keluarga Thio di lembah Tanpa Nama, Han Sian memandang ke bawah. Sudah hampir satu jam dia berdiri di situ, diam tak bergerak. Sepertinya dia sedang menunggu sesuatu.
Memang satu bulan ini Han Sian nampak sibuk ke sana-kemari. Entah takdir dewata atau apa namanya, tapi secara kebetulan dia telah menemukan sebuah guha tersembunyi dimana dia memperoleh enam lempeng dengan symbol “Enam Dewa” yang di ukir bagaikan prasasti di dinding batu. Di situ di jelaskan mengenai peristiwa berdarah yang terjadi delapan puluh tahun lalu.
Waktu itu dunia persilatan dalam keadaan kacau balau karena adanya penyerbuan para tokoh-tokoh sesat dari Nepal & Tibet yang memberontak. Para perusuh ini menghasut banyak tokoh-tokoh dunia hitam yang merajalela yang kemudian membentuk pasukan iblis dalam suatu pergerakan yang di sebut “Operasi Seribu Halilintar”. Pembantaian besar-besaran di lakukan pada tengah malam, semua tokoh-tokoh kaum putih di bunuh oleh pasukan-pasukan yang terdiri dari gabungan para tokoh sesat tersebut. Namun tepat saat krisis ini hampir tak dapat di hindari, muncullah para jago-jago dari enam keluarga besar: Suma, Lu, Yang, Kiang, Khu, dan Thio yang menyelamatkan dunia persilatan dan mengusir para perusuh ini dengan ilmu-ilmu mereka yang sakti tanpa tanding. Mereka kemudian di nobatkan oleh dunia persilatan sebagai Enam Dewa Pelindung Tanpa Tanding. Dimana di saat-saat tertentu, maka kedudukan mereka ada di atas Beng-cu dan berhak membatalkan kedudukan Beng-cu jika di dapati keadaan yang menuntut demikian.
Setelah keadaan kembali aman, wakil ke-enam orang inipun menghilang dari dunia persilatan, dan hanya meninggalkan suatu amanat melalui lempengan baja itu, bahwa pemegang lempengan itu berhak memanggil ke-Enam Dewa pelindung tersebut bila di perlukan.
Hampir satu tahun ini Han Sian menghilang. Sebenarnya tidaklah menghilang, tapi menyelidiki suatu gerakan bawah tanah yang sangat mengejutkannya. Musuh besarnya, Tee-mo Kiam-ong yang telah menjadi Beng-cu baru dunia persilatan, ternyata menyimpan gerakan rahasia yang bahkan lebih besar dari Jit-goat-kauw.
Beng-cu baru ini memperkuat pasukannya dengan melatih mereka ilmu pedang iblisnya sehingga membentuk pasukan pedang iblis yang menakutkan. Di samping itu dia juga telah bersekutu dengan Jit-goat Mo-ong serta merekrut para pengikut-pengikut Ang-I-Lama dari tibet. Total semua pengikutnya ada sekitar dua ribuan lebih.
Melihat ini Han Sian bergidik membayangkan jika pasukan ini melakukan serangan besar-besaran untuk mengacaukan dunia persilatan. Kalau dia hanya bergerak sendiri saja itu mustahil. Maka ketika dia menemukan enam lempengan ini, hatinya senang dan berusaha mencari jalan mengadakan kontak dengan para keluarga ini. Selama ini dia belum menunjukkan lempeng tersebut kepada mereka. Hanya dalam suratnya saja menyebutkan bahwa “Pemegang Lempeng Enam Dewa mengundang ke-enam keluarga untuk bertemu”.
Saat ini dia sedang berada di keluarga terakhir dalam daftar enam dewa tersebut, yaitu keluarga Thio. Keluarga Thio terkenal sebagai keluarga yang misterius bagi semua orang, Sejak leluhur keluarga ini mendirikan keluarga ini. Mereka memiliki peraturan yang amat ketat saat mewariskan ilmu-ilmu keluarganya pada keturunannya karena tidak sembarang orang dapat melatih ilmu-ilmu keluarga ini.
Beberapa saat kemudian, nampak ada gerakan dari bawah. Seorang kakek tua berjubah putih nampak dan berkata:
“Han Kong-cu, keluarg kami sudah menerima surat itu tapi kami belum tau apa masalahnya, jika benar lempeng enam dewa itu ada padamu, maka engkau harus membuktikan bahwa engkau layak memanggil enam dewa tersebut untuk suatu urusan yang penting...beranikah kau?”
“Maaf Siauw-tee belum dapat mengemukakan masalahya sebelum Enam Dewa berkumpul tapi Siauw-tee siap untuk di uji, silahkan…?”
“Hemm..di sini ada empat orang putra terbaik kami. Tapi di antara mereka berempat, ada satu yang paling lihai dan yang memiliki tingkat tertinggi dalam penguasaan ilmu silat keluarga kami. Jika engkau dapat memaksa salah satu dari mereka mengeluarkan ilmu tertinggi kami Kiu-yang Cin-keng ataupun Kian-kun Tay-lo-I-Im-Yang, maka kami akan merelakannya membantu tugas suci sebagai salah satu dari enam Dewa…bagaimana?”
Belum habis ucapannya, dalam sekejap di hadapan Han Sian telah berdiri empat pemuda dengan tampang yang berbeda. Dari gerakan mereka Han Sian cukup terkejut. Keempat orang ini rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi. Teringat dia akan Tee Sun Lai.
Sejenak dia mengamati keempatnya. Dia tahu keempat orang ini pastilah sangat lihai. Sampai lama dia menatap mereka satu persatu, tiba-tiba tangannya di kebaskan ke arah empat orang itu hamper bersamaan. Dia telah memukul dengan pengerahan ilmu Ngo-heng Thian-kiam-cu (Jalur Pedang Langit Lima Unsur) dari Bu-tek Chit-kiam-ciang dengan 7 delapan bagian tenaganya.
“Maaf, ijinkan aku meminjam papan nama kalian…” Belum habis perkataannya, tiba-tiba tangannya di kebaskan dan lima larik sinar tajam warna-warni melesat keluar dengan dahsyat dari kelima jarinya. Empat mengarah pada keempat pemuda tersebut, sedang yang satu lagi mengarah ke arah papan nama di sebelah kiri, agak jauh dari tempat keempat lawannya berdiri.
Nampak sederhana saja serangannya, tapi hasilnya sungguh hebat. Keempat orang itu bergerak hampir bersamaan menangkis serangan itu sehingga menimbulkan lima ledakan dahsyat yang menggetarkan.
Suasana senyap. Han Sian terdiam. Keempat orang itupun terdiam, tapi yang satu sudah berpindah tempat ke kiri. Diam-diam Han Sian berdecak kagum. Dia sempat menangkap kelebatan orang ke tiga yang tiba-tiba saja sudah menangkis ke dua hawa pedangnya hampir bersamaan, hanya beda kurang dari seperlima detik saja.
Tak lama kemudian terdengar suatu berat dari kakek tadi: “Kau menang Han-kong-cu, kami akan membantu”.
Han Sian tersenyum. Sekelebat pemuda tadi sudah berada di depannya sambil tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya menjura:
“Namaku Thio Tay Lee…kau hebat, agaknya kita bisa menjadi sahabat, bukan?...Oh ya, kapan kita berangkat”
Han Sian balas menjura, kemudian menimpali: “Kita tidak punya banyak waktu, ada banyak hal yang musti di selesaikan. Sebaiknya kita berangkat sekarang…”
“Aku sudah siap dari tadi, silahkan…”
Tanpa banyak cakap pemuda itu mengangguk dan mempersilahkan Han Sian untuk jalan duluan. Di lain saat, tubuh mereka berkelebat lenyap dengan di pandangi oleh keluarga lain.
---lovelydear---
Sudah lama kita tinggalkan Cu In Lan. Satu tahun bukan waktu yang pendek, namun ketekunan dan juga di dorong oleh kerinduan untuk bertemu kekasihnya, membuat waktu satu tahun itu serasa sirna dalam sekejap.
Selain mematangkan semua ilmu-ilmunya, dia juga mendapat gemblengan lahir batin dari Yok-Sian dan Koai-Hud. Bahkan mereka ikut juga mematangkan gadis ini dengan mengoperan tenaga sakti mereka secara bertahap sehingga, dalam waktu yang singkat, In Lan mendapat kemajuan yang amat hebat, terutama ginkangnya dan juga tenaganya. Sekarang dara itu dapat memainkan Pukulan Inti Petir Murni yang sudah di gabungkan dengan Ilmu Ban-hud-ciang dari Koai-Hud. Dahsyat sekali. Selain itu dia juga sudah menguasai jurus Sian-ci Sin-thong yang sakti dari Yok-Sian
Hari itu adalah hari terakhir dia tinggal di puncak tebing langit. Tadi malam kedua suhunya sudah memanggilnya dan memberi pesanan agar segera turun gunung dan menunaikan tugasnya sebagai seorang gadis pendekar.
Sebenarnya, walaupun dia sedih, namun ada kegirangan yang amat sangat dalam dirinya. Terbayang suatu wajah di benaknya. Sampai lama hingga akhirnya dia tersipu-sipu malu seorang diri.
Setelah berkemas, dengan enteng dia menuruni Puncak Tebing Langit hingga tiba di bawah. Sambil mengerahkan Thian-in Hui-cu, tubuhnya melesat mengarah ke timur. Tujuannya ke kota raja. Di sepanjang perjalanan kadang-kadang dia membantu rakyat jelata untuk menghadapi penjahat-penjahat yang mengganggu ketenangan. Karena kebaikan hatinya, dia kemudian di juluki Kim-Sim Sian-li (Dewi Berhati Emas).
Suatu hari, dia melewati daerah perbukitan yang luas. Pemandangan alam yang indah nampak di depan mata, menyenangkan hatinya. Sambil bernyanyi-nyanyi riang, dia berjalan sambil bersiul-siul. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona bagai melihat bidadari yang turun dari khayangan.
Tapi rupanya dia tidak sendirian di tempat itu. Dua pasang mata dari tempat tersembunyi sedang menatap dengan penuh nafsu kepadanya. Jarak antara pemilik mata itu dengan In Lan terpaut sepuluh langkah. Namun In Lan bukannya tidak tahu akan hal ini. Tingkat kepandaiannya sudah sangat tinggi, sehingga gerakan kecil apa saja dapat terdeteksi olehnya, apalagi kalau hanya desahan nafas dua orang yang mulai memberat, tapi dia diam saja. Dia juga tidak mau mengganggu kalau tidak di ganggu.
Sekian lama menunggu, akhirnya kedua orang itu tak kuat menahan lagi, seketika itu juga mereka berkelebat menghadang.
“Hehehehe, cah ayu…sedang apa di sini? Apakah tidak takut sendirian?...tapi gak apa-apa, asalkan ada aku di sini, kau pasti aman…” Kata orang pertama.
“Akhh…benar…benar asalkan cah ayu suka menemani kami barang beberapa hari, hohoho…”
In Lan menatap mereka sambil tersenyum: “Boleh, boleh…tapi ada syaratnya…”
Kedua orang itu semakin terbelalak mendengar ini: “Eh, manis…apa syaratnya? Meski mataharipun akan ku berikan padamu?...”
“Syaratnya mudah, aku mau memukul dada kalian, tapi kalian harus dapat menahannya. Kalau tidak, aku tidak mau…bagaimana? Mudahkan…?”
“Mau..mau…mau, ayo pukul sekarang juga, jangankan hanya satu, meski seribukalipun kami siap…” Kata laki-laki yang ke dua sambil membusungkan dada.sementara temannya hanya mengangguk-angguk.
“Baiklah, mana dada kalian…?” In Lan melangkah maju sambil kedua tangannya di angkat dan memukul perlahan. Tingkahnya ini di sambut dengan senyum-senyum penuh arti oleh ke dua orang yang membusungkan dada mereka dengan bangga. Tapi tidak berlangsung lama, karena kesudahannya sungguh mengejutkan kedua orang itu. Tubuh mereka melayang sejauh sepuluh tombak kembali ke tempat persembunyian mereka tadi.
“SAMPAH!!!” Tiba-tiba terdengar suara bentakan kecil, dan satu bayangan berjubah hitam sudah menyambut tubuh kedua orang yang sudah setengah pingsan akibat pukulan In Lan itu dengan telapak tangan terbuka. Terdengar bunyi ledakan dua kali dan tubuh ke dua orang itu hancur seketika dengan darah berhamburan.
“Siapa kau…?” Bentak In Lan. Wajahnya tidak senang, dia tidak bermaksud membunuh ke dua orang itu, hanya mau memberi pelajaran. Tapi orang ini dating-datang langsung main bunuh.
“Heemmmm…aku Hek-Eng-Cu mau kamu melayaniku…” Berkata demikian cepat sekali tubuhnya sudah melesat ke depan In Lan sambil menotok ke dada gadis itu.
“Ehhh…???” In Lan terkejut sekali, tapi temponya tidak banyak, segera kakinya di genjotkan dan tubuhnya mundur dua langkah dengan cepat mengikuti tenaga dorongan hawa totokan lawan.
“Ahhh, kau berisi juga ya…” Pria berjubah itu tiba-tiba melesat ke atas dan memukul dengan tangan terkembang. Itulah hawa Bu-kek-kang-sin-kang tingkat pertama.
“Heaaaahhh…. Daaarrrr…” In Lan tersurut tiga langkah, namun dia tidak terluka. Ternyata ilmu pemuda itu luar biasa. Untung dia sempat mengerahkan Tenaga Inti Petir Murni di kedua tangannya. Kalau tidak entah apa jadinya.
Menilik kekuatan lawan, In Lan mengerti dia kalah tenaga, tapi dia belum puas. Segera dia berkelebat mengerahkan ginkangnya dan melancarkan pukulan-pukulan berbahaya dari Ilmu Ban-Hud-ciang kebanggaan gurunya yang ke dua. Tubuhnya di lindungi oleh laksaan tapak yang membuat lawan susah mendekatinya.
Namun pemuda itu tak kalah sebatnya juga. Tidak sia-sia julukannya Si Bayangan Hitam, karena tubuhnyapun dapat mengimbangi kecepatan In Lan sementara tangannya mengerahkan ilmu Bu-kek-kang-sin-kang tingkat ke dua dan ke tiga.
Sampai duapuluh jurus mereka saling serang, tampak In Lan mulai terdesak di bawah angin saat lawannya mulai mengerahkan kekuatan sampai ke tingkat empat. Melihat ini In Lan mulai berkelahi dalam posisi bertahan, dengan mengerahkan gabungan Tenaga Inti Petir Murni dan Ban-Hud-ciang sambil sedikit-sedikit dia memasukkan Sian-ci Sin-thong di dalam serangannya, dengan demikian dapatlah dia mempertahankan diri.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar bentakan halus:
“Huh, apakah Bu-kek-kang-sin-kang hanya di pakai untuk menghina perempuan?...” Seorang pemuda tampan berjubah hujau sudah berada di situ. Ketika tangannya di angkat, serangkum angin pukulan yang kuat membuyarkan tenaga Bu-kek-kang-sin-kang tingkat empat dari Hek-eng-cu. Segera Hek-eng-cu melentingkan tubuh dan menghadap pendatang baru itu dengan gusar namun waspada.
“Ada urusan apa kau ikut campur? cari mati saja…?
“Siapa aku adanya tak perlu kau urus. Jelasnya kalau kau masih tetap mau menghina seorang gadis muda, kau akan berhadapan denganku.”
“Baik, sambutlah…” Sekali melesat Hek-eng-cu sudah menerjang dengan Bu-kek-kang-sin-kang tingkat ke lima. Hebat sekali akibatnya. Debu pasir berterbangan dan hawa pukulan yang kuat dalam jarak lima tombak masih terasa.
Pemuda berbaju hijau itu dengan tenang menyambut serangan lawan. Bahkan kelihatannya dia tidak takut sama sekali. Gerakan-gerakan tangannya memainkan Soan-hong Sin-ciang dengan di lambari pengerahan tingkat tinggi dari Giok-ceng Sin-kang yang sakti.
Tidak sampai limapuluh jurus, tiba-tiba Hek-eng-cu memukulkan sesuatu ke tanah sehingga muncul asap yang melindungi pandangan lawan. Dalam sekejap dia telah lenyap dari tempat itu.
Pemuda berbaju hijau itu tidak mengejar. Hanya sekejap dia membalikkan tubuh menghadap In Lan.
“Nona, aku Kiang Po Chun, salam kenal…” Pemuda itu menjura, namun matanya tak berkedip penuh kekaguman menatap gadis di depannya. Hal mana tentu saja membuat In Lan jengah.
“Ehh, aku Cu In Lan…Terima kasih atas bantuanmu”
“Ahh tidak apa-apa, untung lawanmu itu hanya menguasai Bu-kek-kang –sin-kang sampai tingkat ke enam, kalau lebih dari itu, tentu aku akan sedikit kesulitan mengusirnya pergi…hanya aneh? Setahuku ilmu itu hanya di miliki oleh keluarga Khu, apa penjahat itu dari keluarga Khu?…”

Munculnya Dua Dewa Tanpa Tanding

Hampir satu tahun tidak ada gerakan apapun dari para pendekar ataupun partai-partai lainnya. Dunia kang-ouw dan bu-lim kehilangan kepercayaan diri. Situasi ini menyenangkan dan mulai di manfaatkan oleh para pengikut jalan Hek-to. Di mana-mana muncul raja-raja kecil yang merajalela dengan kejahatan mereka yang tanpa ampun, membunuh dan memperkosa anak-istri orang. Diantaranya ialah dua perkumpulan yang menamakan diri mereka Thian-tee-san-pai (Perkumpulan gunung langit dan bumi) dan Kim-liong-kiam-pai

Memasuki daerah Lam-khia, seorang pemuda berjubah putih berjalan dengan gagah memasuki rumah makan paling terkenal di sekitar laut timur ini.. Wajahnya tampan dengan alis tebal dan bibir yang selalu tersenyum kalem. Di punggungnya terdapat sebuah buntelan pakaian.

Dengan tenang dia naik ke lantai tiga dan memilih tempat duduk di sudut ruangan yang menghadap kearah pintu. Tempatnya strategis sehingga mudah melihat orang-orang yang keluar masuk dan juga ke luar. Tidak menunggu lama karena memang pelayanan di rumah makan itu sangat cepat untuk memuaskan pelanggan, pemuda itu sudah menikmati masakan dengan uap yang masih mengepul…nikmat sekali.

Tak berapa lama dia menyelesaikan makanannya. Seketika dia hendak membayar harga makanannya, tiba-tiba matanya menangkap gerakan yang tidak wajar dari orang-orang dalam ruangan tersebut. Mereka semua memandang kepadanya dengan sorot mataaneh. Tiba-tiba salah satu pria berjenggot disebelah kanannya maju dan duduk di depannya sambil berkata:

“Anak muda, nampaknya kau dari golongan putih…siapa kau dan dari mana asalmu?”

Pemuda itu tidak menjawab. Hanya ekspresi wajahnya yang tenang dan kalem memiliki karisma yang sangat menggetarkan. Sehingga mau-tak mau pria berjanggut itu agak was-was juga, namun saat dia mengedarkan pandangan ke arah rekan-rekannya hatinya menjadi mantap lagi. Kembali dia membentak:

“Kalau kau tidak mau menjawab, jangan salahkan kalau aku melemparmu ke luar …” Berkata begitu, dengan cepat ke dua tangannya tiba-tiba terulur kea rah pundak pemuda itu dan mencengkram bahunya dengan salah satu jurus Kin-na-jiu yang cukup bertenaga. Tampaknya pemuda itu akan menemui sialnya. Semua orang memandang dengan senyum-senyum liar.

“Heeeeaaaahhh…” “Braakkk…” Satu tubuh melayang ke luar dengan cepat dan menghantam gerobak yang ada di luar, sekejap semua orang belum sadar, tapi di lain saat orang-orang di dalam ruangan itu serentak berdiri dan mencabut senjata mereka masing-masing.

“Hemmm…maaf, aku tidak berniat mencelakainya, dia sendiri yang cari…permisi” “Sraaattt…” Tiba-tiba tubuh pemuda itu melayang ke luar dengan ringan sambil membawa buntelannya. Sementara melayang , tangannya melemparkan lima keeping uang tembaga yang menembus dinding dekat kasir.

“Hahaha…kalau kau bisa semudah itu lolos, jangan panggil kami Hek-pek-tok-coa-siang (Sepasang ular beracun hitam-putih)…” Selagi orang-orang terkejut, tidak tahu mo buat apa, dua buah bayangan berjubah hitam dan putih melesat keluar dengan cepat sambil memukul ke arah punggung pemuda yang masih melayang di udara tersebut. Terdengar suara berkesiuran yang dahsyat di ikuti bau amis mengarah ke arah punggung si pemuda.

Sedetik saat kedua pukulan itu akan mengenai sasarannya, tiba-tiba tubuh pemuda itu menghilang dari depan mereka. Kedua orang itu terkejut dan segara berjungkir balik untuk menghindari bokongan musuh dan mendarat di atas tanah. Mata mereka mencari-cari, dan wajah mereka murka ketika melihat pemuda buruan mereka berjalan lenggang menuju luar kota. Segera mereka mengejar dengan cepat.

Pemuda itu hanya berjalan seenaknya saja, namun betapa terkejutnya mereka karena jarak mereka tetap terpaut jauh seperti tadi. Tapi tidak menunggu lama karena dari jauh mereka melihat berkelebatnya empat bayangan yang langsung mengepung pemuma itu. Segera mereka mendekan karena itu adalah rekan-rekan mereka.

“Hahaha, mungkin kau punya bekal sedikit kepandaian, tapi kau tetap tak akan lolos dari kami…” berkata si pria muka putih, salah satu dari Hek-pek-tok-coa-siang

“Maaf cuwi skalian, saya hanyalah seorang perantau saja, bolehkah saya tahu apa kesalahan saya sehingga cuwi mengejar-ngejar saya?” Tanya pemuda itu dengan suara yang masih tenang dan terkesan ramah.

“Hemm…Siapapun yang berasal dari golongan putih, harus mati. Bengcu kami menyediakan hadiah besar bagi siapapun yang berhasil memenggal kepala para pendekar dari golongan putih”

“Bengcu…?” “Eh, bukankah bengcu itu harusnya melindungi keamanan kaum persilatan???” Pemuda itu berseru heran.

“Hahaha, rupanya kau baru turun gunung ya? Sekarang ini kekuatan kalian kaum putih sudah hancur dan tidak bisa di andalkan. Bengcu dunia persilatan sekarang adalah raja pedang Tee-mo Kiam-ong yang sangat sakti dan tanpa tanding.”

“Oh ya, terima kasih atas informasinya, kalau begitu cahye mohon diri dulu…” Pemuda itu tetap kalem menjawab.

“Hohoho…tidak semudah itu, kau harus melewati kami dulu…” Jawab salah satu dari ke empat orang yang mencegatnya sambil melancarkan pukulan yang kuat ke tengkuk pemuda itu. Namun hanya sedikit memiringkan tubuh saja pemuda itu sudah menghindar. Namun kembali orang itu menyerang dengan tendangan samping di ikuti tangannya yang melemparkan pelor-pelor besi ke arah kepala dan dada pemuda itu.

Dengan sebat pemuda itu mengangkat tangannya menangkap pelor-pelor tersebut dan sekali remas langsung hancur. Sementara itu tendangan orang itu di tepisnya dengan perlahan. Namun akibatnya hebat, orang itu tiba-tiba terlempar dengan tulang kaki patah.

“Serbuuuu….” Bentak Hek-coa marah, sekejap di tangannya dia sudah memegang seekor ular hitam yang beracun. Diikuti ke lima rekannya yang memegang berbagai senjata aneh lainnya, mereka menyerbu sambil mengeroyok pemuda itu.

Namun mereka kecelik kalau mengira pemuda itu makanan empuk. Di antara selewiran senjata-senjata yang menyerang dengan cepat, tetap tidak ada satupun yang sanggup menyentuh pemuda itu yang bersilat dengan ilmu Hong-in Bun-hoat (silat sastra Awan dan Angin) dan mementalkan setiap senjata lawan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, memasuki jurus ke lima belas, tiba-tiba pemuda itu yang tadinya hanya diam di tempat, tiba-tiba melangkah dengan aneh sambil membagi-bagi pukulan yang mengeluarkan hawa panas dan dingin.

“Hwi-yang Sin-ciang dan Soat-im Sin-siang???” Seru pek coa dengan kaget.

“Dia dari keluarga Suma…LARIII..” Seru yang lain, namun terlambat. Belum lagi mereka bergerak lari, dari lidah mereka terdengar suara raungan dan jerit kematian dari tubuh yang hangus dan beku. Satu-satunya yang selamat hanyalah pria yang tidak ituk mengeroyok yang masih duduk karena patah tulang kakinya.

Pemuda itu diam, Ekspresi penyesalan tampak dari wajahnya. Perlahan matanya melirik orang yang patah kaki tersebut.

“Apakah engkau masih mau kepalaku?...”

“Ti…tid…tidak tayhiap, ampun…ampunkan saya…”

“Baiklah, kau boleh pergi, tapi ingat! Sekali lagi aku menemukanmu melakukan perbuatan jahat, Aku Suma Hong Sin tak akan mengampunimu…Kaum putih belumlah kalah karena sekarang legenda Enam Dewa Pelindung Tanpa Tanding telah bangkit lagi…” Belum habis suaranya, tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.

Siapakah Suma Hong Sin ini? Dia putra bungsu dari lima bersaudara yang merupakan keturunan terakhir dari keluarga Pulau Es yang sudah lama musnah itu. Dia adalah satu-satunya keturunan keluarga Suma yang dapat mewarisi ilmu-ilmu pilihan keluarganya sampai di tingkat yang tertinggi. Diantaranya,: Bian-Ciang, Hwi-yang sin-ciang & Soat-im sin-ciang, Hong-In Bun-hoat, dan ilmu sihir I-Hun-to-hoat serta Hong-lui Tai-hong-ciang yang menjadi kebanggaan leluhurnya dulu. Bahkan dia satu-satunya yang berhasil menguasai penggabungan Hwi-yang sin-ciang & Soat-im sin-ciang yang di ciptakan oleh leluhurnya yang berjuluk Siluman Kecil.

---lovelydear---

Selama berpuluh tahun keluarga Khu di puncak Sian-thian-san adalah tempat yang sangat sulit di datangi. Dan menjadi salah satu tempat keramat. Golongan hitam sekalipun segan berurusan dengan penghuni puncak ini. Namun di hari yang cerah itu, tiba-tiba terdengar dua jeritan keras dari sebuah rumah yang ada di tengah-tengah perkampungan. Tak lama kemudian sesosok bayangan hitam berkelebat amat cepatnya melarikan diri sambil membawa buntelan kecil.

“Bangsat tak tahu di untung…mau lari ke mana kau?...” Satu sosok bayangan yang lain dengan cepat memapaki laju bayangan hitam tersebut sambil memukul dengan pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi.

“Dhuaaarrrrr…Sleepp…” Orang yang memamapi itu terlempar kebelakang dan menabrak pohon di belakangnya. Segera bayangan berbaju hitam itu berkelebat lenyap dari tempat itu.

Suasana kembali tenang. Hanya angin yang bertiup tenang. Dari bagian utara puncak tersebut, berjalan dua orang yang saling bergandeng tangan sambil tertawa-tawa. Yang satu nampak tua sekali sedangkan yang satu seorang pemuda tampan.

Tampaknya mereka masih belum menyadari ada sesuatu yang mengerikan telah terjadi sampai langkah mereka terhenti di pekarangan yang luas di hadapan sesosok mayat yang telah dingin.

“Hok-jin kau kenapakah???...” Seru si kakek yang terlebih dahulu melihat mayat itu sambil mendekati dan memeriksanya. Namun namanya mayat, tetaplah mayat. Biar bagaimanapun tetap takkan bisa menjawab. Hanya satu yang mengejutkan, ialah pelayan ini mati dengan dada hancur akibat gentakan ilmu Bu-kek-kang-sin-kang tingkat ke empat yang mereka kenal baik.

Timbul rasa tidak enak di hati ke dua orang ini dan dalam sekejap tubuh mereka melesat bagai asap hampir bersamaan ke arah rumah. Dan tak ayal lagi, tiba-tiba terdengar jerit yang menyayat hati dari pemuda tadi.

“Ayahhhhh…..Ibuuuu…???” Pemuda itu bertelut sambil memeluk mayat dua orang yang menjadi korban suatu ilmu yang sama yang mereka sangat kenal baik. Mata anak muda berusia duapuluh tahun itu berkaca-kaca, namun dia masih berusaha mengeraskan hatinya.

“Ayah, Ibu, siapa yang melakukan ini pada kalian?...”

“Liong-ji lihat itu?” tiba-tiba sang kakek menunjuk ke lantai de sebelah mayat ayah dari pemuda itu. Terdapat tulisan yang tampaknya di tulis dengan darah, berbunyi “BUNUH TIN CU…”

“Kong-kong, di mana Suheng Tin Cu?...” Anak muda itu segera terhenyak dan melompat berdiri. Tanpa menunggu jawaban kong-kongnya, tubuhnya melesat ke dalam menuju kamar pusaka. Dan apa yang dia dapat, sungguh membuatnya kesal karena orang yang di cari tidak ada. Sekejab, tahulah dia, bahwa suhengnya itu mungkin telah berkhianat… Segera dia kembali ke ruang di mana ayah dan ibunya terbaring.

“Kong-kong, aku rasa suheng Tin Cu berkhianat, aku akan mengejarnya…” Suaranya perlahan saja, namun matanya merah tanda amarah yang amat sangat.

Sang kakek bangkit berdiri. Dengan mata berkilat di tatapnya pemuda di depannya dan berkata:
“Redakan amarahmu, karena kau akan gagal kalau hanya menuruti nafsumu…kalau kau sudah tenang, masih belum terlambat untuk mencarinya.” Habis berkata demikian, kakek itu menggerakkan tangannya dan ke dua tubuh itu terangkat dan melayang ke arah dalam. Pemuda itu hanya tinggal berdiam di ruangan itu sendirian sambil berusaha mengendalikan dirinya.

Lewat dua hari setelah pemakaman ke tiga mayat di puncak Sian-thian-san itu, nampak pemuda itu berlutut di depan sang kakek.

“Cucuku Khu Hee Liong, tampaknya sejak awal, murid murtad itu sudah bersiasat untuk menyeludup guna mempelajari ilmu pusaka kita. Tapi jangan khawatir, meskipun dia membawa lari pusaka-pusaka kita, tapi rahasia untuk melatih ilmu-ilmu itu sampai tingkat yang tertinggi tidak ada dalam cartatan kitab-kitab tersebut….” Dia terdia sejenak. “…Selain kau harus mencari murid murtad itu dan membawa kembali ilmu kitab-kitab pusaka itu, kau juga harus mewakili leluhurmu membangkitkan lagi legenda Enam Dewa yang sudah terkubur selama delapan puluh tahun…”

“Legenda Enam Dewa Tanpa Tanding? Apakah itu kong-kong?...”

“Delapanpuluh tahun lalu ketika dunia persilatan mengalami bencana karena munculnya para pengganas sesat pelarian dari Tibet dan Nepal, dunia persilatan meminta bantuan enam keluarga untuk menghadapi mereka. Ke enam keluarga ini kemudian mengutus jago-jago terbaik mereka yang kemudian di kenal dengan julukan Enam Dewa tanpa tanding….dua bulan lalu saat kong-kong sedang bermeditasi, tiba-tiba seorang pemuda yang mengaku bernama Han Sian muncul dan menyerahkan surat ini.” Tangan kakek itu tiba-tiba menyodorkan suat surat pada Hee Liong yang segera menyambutnya dan membaca.

Dalam surat itu berbunyi: “Demi terciptanya kembali keamanan dunia persilatan, mohon bantuan Enam Dewa Tanpa Tanding…”

“Siapakah pemuda itu kong-kong?”

“Hemm…dia sebaya denganmu dan mengaku bernama Han Sian. Anak muda itu lihai sekali karena dia mewarisi Hui-Im-Hong-Sin-Kang dan Kui-Sian I-sin-kang yang telah di kabarkan lenyap limaratus tahun lalu. Agaknya hanya dengan menguasai Bu-kek-kang-sin-kang tahap ke sepuluh baru kau bisa menandingi sama kuat dengannya.”

“Baik, kongkong, Liong-ji akan memperhatikan hal ini…mohon pamit?” Habis berkata demikian, tubuhnya melesat lenyap bagaikan asap saja.

Pembaca, Khu Hee Liong adalah satu-satunya keturunan keluarga dari Sian-thian-san yang sanggup menjebol ilmu dahsyat Bu-kek-kang-sin-kang tahap sembilan di usianya yang masih muda itu.