Laman

Jumat, 12 April 2013

Tangan kanan "Iblis" penguasa Kim-Liong-Pay

Beberapa bulan kemudian, seiring dengan melejitnya nama Pendekar Asmara Tangan Iblis yang sakti, nama yang lain juga mengikuti dengan tidak kalah tenarnya: “Pangeran Pedang Iblis” yang memiliki kedahsyatan ilmu pedang yang tidak ada tandingan.
Kedua nama ini masih dalam bayangan misterius dari dunia persilatan. Tidak jelas berada di pihak mana mereka. Yang jelas, kaum kang-ouw sama tau bahwa kedua orang ini tidak se jalan dengan Jit-Goat Mo-ong yang mereka takuti.
Han Sian berjalan memasuki kota Cheng-Du di propinsi Se-Chuan. Langkahnya santai, sambil menikmati pemandangan alam yang indah dia kemudian memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar dan mengambil tempat duduk di bagian sudut kiri ruangan. Nampak hanya ada enam orang di situ, termasuk dirinya sendiri, tapi mereka tidak memperhatikannya. Dari sudut itu dia dapat melihat ke seluruh ruangan bahkan sampai ke-luar.
Seorang pelayan, mendekatinya: “Tuan mau makan apa?”
“Hemm, berikan saja nasi, sayur asam dan 2 potong ayam goreng.” Han Sian membalas tersenyum sambil tangannya menyerahkan potongan kecil uang perak.
“Baik tuan, silahkan menunggu...” Kata pelayan tersebut kemudian berlalu dari situ. Tak lama kemudian pesanan di antar dan Han Sian makan dengan lahapnya
Beberapa saat kemudian nampak bayangan 2 orang memasuki rumah makan itu. Tampaknya mereka adalah dua orang muda-mudi yang baru saja habis melakukan perjalanan jauh. Dari wajah mereka nampak kusut. Sang wanita berusia sekitar 17 tahun dan memiliki wajah yang amat cantik serta tubuh yang indah dan menggairahkan dengan baju warna merah muda yang nampak serasi sekali dengan kulitnya yang putih mulus. Sementara yang pria berusia 21 tahun dan juga tak kalah gagahnya.
Han Sian mengamati sejenak kedua orang yang menyapu ruangan tersebut dengan pandangan mata menyelidik. Ketika sinar matanya berbenturan dengannya, tahulah dia bahwa kedua muda-mudi ini bukanlah orang lemah, paling tidak mereka memiliki tenaga setara para pendekar-pendekar tingkat satu. namun dia tidak melihat lebih lanjut.
Kedua orang itu mengambil tempat tepat 2 meja di sampingnya dan kebetulan pula sang wanita duduk menghadap ke arahnya. Kembali dua mata mereka bertemu. Kali ini sinar kekaguman terpancar dari mata Han Sian, sementara wanita itu hanya tersipu sambil kemudian menunduk-kan mukanya.
Setelah memesan makanan pada pelayan yang menyambut mereka, sang gadis berkata dengan suara merdu dan setengah berbisik:
“Kim-Toako, berapa lama lagikah perjalanan kita? Apakah mungkin kita menemukan susiok Ui-I-Liong-Jin (kakek Naga Jubah Kuning) yang kita tidak tahu dimana keberadaannya? ”
“Lian-moi, kau tenanglah...jika mengandalkan informasi suhu sebelum beliau mengembuskan nafas terakhir, maka pasti kita akan menemukannya lagi di sekitar propensi Se-Chuan ini! Kita harus menemukannya Lian-moi, hanya dia yang dapat menyelamatkan Kim-Liong-Pay dari malapetaka dan cengkraman iblis itu” Pemuda yang di panggil Kim-Toako itupun membalas dengan suara perlahan.
Namun semuanya itu tdk lepas dari telinga Han Sian yang tajam. Sebenarnya tidak ada maksudnya mendengarkan pembicaraan orang, tapi dasar telinganya yang terlalu tajam, dia tidak dapat berbuat apa-apa selain menguping semuanya.
Hatinya tertarik sekali. Siapa yang di maksud ‘Iblis’ tersebut? Tapi walaupun dia menunggu sampai penasaran, kedua orang tersebut hanya diam saja sampai habis makan.
Tak lama kemudian selesailah kedua orang itu makan. Selang sejenak merekapun lalu berdiri dan melangkah menuju pintu keluar. Sampai di luar, mereka berjalan cepat mengarah ke pintu gerbang selatan. Setelah melawati penjagaan, kedua orang muda itu mengembangkan gin-kang mereka dan berlari cepat mengarah ke sebuah hutan yang jaraknya sekitar 10 li dari pinggir kota.
Namun ketika mereka hampir tiba di pinggir hutan, lari mereka terhenti. Di hadapan mereka telah menghadang 5 orang laki-laki berusia sekitar 40-50an tahun. Berpakaian putih dan memakai ikat kepala berwarna putih dengan ukiran naga kuning. Di pinggang mereka tampak menggantung sebatang pedang panjang.
“Kalian sudah cukup jauh berjalan, karena itu kalian tidak akan kemana-mana lagi...” Salah seorang yang tampaknya adalah pemimpin mereka menegur dengan suara datar. “Junjungan menginginkan kalian pulang untuk menerima hukuman...”
Sejenak kedua orang muda ini tertegun sejenak, tapi mereka juga tidak kaget terhadap kehadiran 5 orang ini. Hanya yang membuat mereka tidak habis pikir ialah perkataan ‘junjungan’ yang baru saja mereka dengarkan.
“Hok-Tancu, apa maksudmu...?” Menegas suara pemuda bernama itu.
“Hem...Kim Tin Lee, kau tahu maksud kami, mulai sekarang Kim-Liong-Pay akan menjadi lebih kuat dengan adanya junjungan kita yang sakti itu...apakah kau mengerti? Orang yang di panggil Hok-tancu membalas, tetap dengan suara datar.
“Bangsat...jadi inikah hasil kesetiaan kalian selama ini terhadap suhu yang sudah menolong dan mengangkat kalian dari kesengsaraan...Baik, hari ini aku, Kim Tin Lee akan adu jiwa untuk membasmi kalian...” Berkata demikian, dengan wajah yang penuh amarah, dia mencabut pedangnya dan langsung menerjang ke arah Hok-tancu dengan dahsyat. Di lain saat dia telah memainkan Kim-Liong-Kiam-Sut.
Hok-tancu melentingkan tubuh ke belakang sambil mencabut pedangnya, dan bersiap dalam posisi menunggu dalam kuda-kuda yang kokoh. Di lain saat mereka telah bergebrak dengan hebat. Ternyata keduanya memiliki dasar ilmu yang sama.
Sementara itu sang gadis yang melihat rekannya sudah bergebrak, segera pula mencabut pedangnya dan menyerang penghadang yang lain tak kalah sebetnya.
Setelah dua puluh jurus tampak Hok-Tancu mulai terdesak hebat. Ketiga rekan lain yang masih menonton dari tadi saling pandang dan di lain saat mereka telah bergerak membantu. Satu membantu Hok-Tancu sedang yang dua membantu mengerubut si gadis tersebut.
Tampak bahwa memang mereka mau segera menangkap si gadis hidup-hidup. Hal ini bukannya tidak di sadari juga oleh Kim Tin Lee, hanya saja dia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan dirinya. Apa lagi saat dia melihat si gadis yang beberapa kali mengeluarkan suara menjerit kecil ketika bajunya mulai robek sana-sini sehingga mengganggu perhatiannya sehingga permainan pedangnya menjadi kacau.
Dengan nekat, akhirnya Kim Tin Lee memekik nyaring, tubuhnya melesat ke atas setinggi tiga tombak, pedangnya di gerakkan dengan 7 kali serangan beruntun yang mematikan di tubuh lawan. Serangan ini ganas, namun hakikatnya ia tidak memperdulikan nyawa lagi karena jurus ini menyerang tanpa bertahan. Inilah jurus Sin-liong-chit-kiam (Tujuh pedang naga sakti) yang ampuh.
Hok-Tancu dan rekannya yang terkejut melihat ini, mereka tahu lawan mau adu jiwa. Akan tetapi mereka mengenal jurus itu dan tau kedahsyatannya maka segera mereka melompat jauh ke belakang sambil bersiap untuk membalas dengan jurus andalan. Namun mereka segera kehilangan lawannya karena waktu yang sempit itu tidak di sia-siakan oleh Tin Lee.
“Lian –moi, kau larilah...jangan membantah...nanti kau balaskan sakit hati ini...” Mati-matian Tin Lee mengempos segenap tenaga menyerang ketiga pengeroyok yang mengeroyok gadis itu.
Wajah gadis itu pucat, dia memandang dengan penuh rasa terima kasih...namun dia juga sadar bahwa mereka tidak akan bertahan jika terus melawan.
Segera diapun memutar pedangnya. Setelah ada peluang sedikit, sambil menahan sakit akibat beberapa luka di tubuhnya, dia meloncat dan berlari masuk ke dalam hutan. “Toako...hati-hati...”
Hok-Tancu marah melihat hal ini, segera dia bermaksud mengejar, tapi niatnya urung karena di hadapannya tahu-tahu berdezing empat peluru besi yang mengarah ke jalan darah mematikan di tubuh mereka berdua. Itulah peluru naga yang menjadi andalan Kim-liong-pay yang di sambitkan Tin Lee.
Tangannya bergerak cepat memapaki peluru tersebut dengan pedangnya. “TRAAANGG... TAAKK..” peluru-peluru itu runtuh ke tanah, tapi Hok-Tancu dan rekannya terkejut. Mereka merasakan suatu tenaga yang amat kuat yang membentur pedang mereka sehingga mematahkan pedang.
Mereka tidak habis pikir, kalau berdsarkan tenaga yang di miliki Tin Lee, mustahil mematahkan pedang mereka. Sejenak dia menoleh ke kanan-kiri, namun tetap tidak menemukan apa-apa.
“Bekuk dia...” perintah Hok-Tancu dengan marah walau masih dengan hati was-was. Ke empat orang itu segera mengeroyok Tin Lee, sedang Hok-Tancu berlari mengejar ke arah sang gadis ke dalam hutan.
Sampi lama Hok-Tancu mengejar ke dalam hutan, tapi dia heran, kemana menghilangnya gadis itu. Sementara dia celingukan kesana-kemari, tiba-tiba di lihatnya bekas pukulan telapak tangan yang melesak masuk sedalam 3 inchi pada sebuah batu besar di sampingnya. Jelas sekali, tanda yang melakukannya adalah orang yang bertenaga dalam tinggi sekali. Sementara di samping cap tangan ini ada tulisan pendek “Jangan ganggu gadis itu atau kalian mati!...Tangan Iblis”
Tak berapa lama kemudian ke empat rekannya sudah mengikutinya. Rupanya mereka telah berhasil membekuk Kim Tin Lee.
“Bagaimana...?” Tanya mereka pada Hok-Tancu...
Hok-tancu hanya memandangi mereka dengan tatapan penasaran sambil menunjuk cap tangan di batu tersebut yang di sambut dengan reaksi terkejut oleh rekan-rekannya. Namun mereka tidak berani gegabah.
Sementara mereka termanggu tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba...
“JDAAAAAARRRRR.....” Debu mengepul ke atas, dan batu yang terdapat cap tangan tersebut hancur berantakan. Di lain saat di hadapan mereka telah berdiri seorang laki-laki tinggi kurus berjubah merah yang menatap mereka dengan sinar mata yang tajam.
Melihat orang ini, serentak kelima orang itu hendak menjatuhkan diri bertelut tapi segara terdengar suara dingin, menyeramkan, “ Dimana mereka...?”
Segera Hok-Tancu menunjuk ke kiri dan di lain saat laki-laki itu melesat lenyap dengan cepat.
---lovelydear---
Apakah yang telah terjadi? Mudah di duga, bahwa gadis yang telah terluka itu bertemu dengan Han Sian. Sebenarnya sudah lama Han Sian menguntit mereka karena tertarik oleh pembicaraan mereka. Dia juga yang membantu gadis itu dengan sambitan dua pasir kecil yang mematahkan pedang Hok-Tancu dan rekannya.
Han Sian menatap gadis tersebut dengan kagum. Gadis ini memang cantik jelita, tak kalah cantiknya dengan Cu In Lan yang ada dalam ingatannya.
“Nona, sebenarnya apakah yang terjadi?...mengapa engkau sampai bentrok dengan orang-orang Kim-Liong-Pay tersebut?...”
Gadis itu mengangkat wajahnya yang cantik sambil menatap pemuda di depannya ini. Dia belum sempat menanyakan siapa pemuda ini dan ada apa dia mau menolong.
Saat dia sedang berlari cepat, tiba-tiba dia di kujutkan oleh suara perlahan di telinganya “Nona perlahan..engkau tak perlu lari...aku sudah menghalangilangkah mereka...” Segera dia membalikkan tubuh dan dia terkejut karena di hadapannya telah berdiri seorang pemuda berpakaian sederhana sambil tersenyum. Sebelum dia berbuat apa-apa, pemuda itu mendekati sebuah batu besar dan menekankan telapak tangannya yang melesak 2 inchi lebih. Tahulah dia bahwa pemuda ini berilmu tinggi.
Dengan penuh keraguan dia hanya menatap saja. Han San mengerti, “maaf, kau mungkin bertanya kenapa aku membantumu bukan?”
Gadis itu mengangguk perlahan., segera Han Sian melanjutkan, “Sebenarnya, aku tertarik mendengar pembicaraan kalian saat kau menyebut nama “Ui-I-Liong-jin, karena aku mengenal beliau dengan baik...”
Mata Gadis itu berbinar. Mulai timbul rasa kepercayaannya pada pemuda ini, namun begitu hanya sinar matanya yang menunjukkan perasaan berterima kasih ini. baru saja dia hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba di lihatnya tangan pemuda itu di taruh di bibir dan memberi isyarat padanya untuk berdiam.
“Hehehee...ehh...., hebat kau anak muda, bisa mengetahui keberadaanku...” Terdengar suara yang de sertai pengerahan tenaga dalam tinggi yang sempurna menggema memekakkan telinga. Dalam sekejab, muncullah seorang laki-laki tinggi kurus yang berjubah merah. Umurnya sekitar 50-an tahun. Wajahnya masih kelihatan gagah, namun yang aneh adalah mata kanannya yang cacat sehingga hanya kelihatan putihnya saja.
Suaranya dingin dan kaku, “Orang muda, kau berperkara dengan kami, apa kau pikir bisa kabur seenaknya saja dari tangan kami?...”
Dengan tenang Han Sian menatap orang itu. “Maaf, lo-cianpwe, aku tak mengerti maksud anda, apa perbuatanku melindungi nona ini yang kau anggap berperkara dengan golongan kalian?”
“Huh, gadis itu adalah buruan ketua kami...kau harus menyerahkan padaku untuk di bawa, kalau tidak...”
“Hemnn, kalau tidak apa...” balas Han Sian. Matanya sudah mulai bersinar tajam penuh kemarahan. Dia adalah jenis orang yang paling tidak suka di ancam, dan orang ini sepertinya belum sadar kalau jawabannya nanti akan menentukan akhir hidupnya.
“Kalau tidak, maka kau pasti mati...”
“Baik, ku beri kesempatan kau menyerang tiga jurus, dan kalau kau tidak berhasil, kepalamu akan ku ratakan dengan jalan...” Suara Han Sian mulai terdengar dingin, sinar matanya berkilat.
“Sombong...kau belum tahu siapa aku...” berkata demikian orang itu berjalan perlahan ke depan sambil tangannya mendorong dada Han Sian. Tampaknya dia masih memandang enteng.
“Duukkk...Ehh..?” Laki-laki itu terkejut bukan kepalang. Dorongannya adalah pukulan dengan pengerahan enam bagian bagian tenaganya, tapi pemuda itu tidak bergeming sedikitpun.
“Dua kali lagi...harap pergunakan sebaik-baiknya...”
Dia mendengus marah, dan sekejap kemudian tangannya sampai ke siku telah berubah kepucat-pucatan dan berbau harum, itulah ilmu “Pek-Siang-tok-ciang” atau Pukulan Racun Wangi Putih.
“Rasakan kehebatan Tok-ciang Sin-mo...” Sekali membentak, tubuhnya meluncur ke depan sambil memukul dengan hawa pukulan di sertai pengerahan tenaga delapan bagian. Namun Han Sian hanya diam saja. Rupanya dia tahu bahwa ini hanya pancingan saja. Dan benar, dilain saat tubuh Tok-ciang Sin-mo telah berada di belakangnya dengan memukul sekuatnya.
“Awass!!!......BHUUUKK” Seruan khawatir dari gadis itu terdengar bersamaan dengan pukulan yang dahsyat mengenai punggung pemuda itu. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Pemuda itu tetap terdiam tak bergeming, justru lawannya yang tergentak lima langkah ke belakang.
“Eh...orang muda siapakah kau?” Tok-ciang sin-mo kaget sekali. Dia adalah tokoh besar yang sudah puluhan tahun malang-melintang di dunia kang-ouw hampir tanpa tandingan. Tapi kali ini delapan bagian tenaganya tidak dapat menggoyahkan seorang pemuda bau kencur di hadapannya. Diapun bukan orang bodoh. Tahu berhadapan dengan orang pandai, segera dia mengerahkan tenaga sepenuhnya dan memainkan ilmu tok-ciangnya.
Melihat orang mulai serius, Han Sian segera mengerahkan tenaga Kui-Sian I-Sin-Kangnya sampai ke tahap awan yang membuat semua pukulan lawan seperti menembus tubuhnya tanpa penghalang.
Tok-ciang sin-mo terkejut setengah mati. Pukulannya seperti tembus. Seolah-olah dia hanya memukul memukul bayangan. Lewat tiga jurus, dia melihat tangan pemuda itu bergerak aneh dan sangat cepat, tahu-tahu dia rasakan seluruh tenaganya amblas dan di lain saat di sudah jatuh terduduk di tanah tanpa tenaga sama sekali dengan kedua sambungan pundak dan sambungan kaki hancur.
“Pend...pendekar Asmara...Tangan Iblis....aakhh...” keluhnya dengan suara tertahan dan nafas putus-putus. Sesaat kemudian tubuhnya mengejang kaku dengan nafas putus.
Gadis yang dari tadi menyakskan pertarungan tersebut hanya termangu saja. Kejadian yang baru sja dia lihat sungguh sangt aneh. Dia tahu orang berpakaian merah itu adalah seorang yang sangat sakti, salah satu dari 2 tangan kanan “iblis” yang sedang menguasai perguruannya.
“Nona...? apa kau baik-baik saja....?” Han Sian bertanya perlahan, saat melihat gadis itu hanya termenung.

Hui-Kut-Tok-Im-Ciang

****
Sudah terlalu lama kita tinggalkan Han Sian yang sedang menempa diri sambil berkabung selama satu tahun.
Satu tahun lebih Han Sian tinggal dalam sumur di lembah pedang tersebut. Sambil terus berlatih tanpa kenal lelah. Berbekal semua ilmu-ilmu dewa yang dia telah miliki sebelumnya, membuat Han Sian dapat melatih “Ilmu Seribu Bayangan Iblis Pemusnah” dengan sempurna. Sebenarnya ilmu ini sangat ganas sekali dan tak kenal ampun. Kalau saja ilmu ini jatuh ke tangan orang jahat, pastilah malapetaka bagi dunia persilatan.
Namun, dengan kecerdikannya, dia dapat membuang pengaruh-pengaruh yang menyesatkan dari ilmu tersebut dan menggabungkannya dengan ilmu-ilmu yang dia sudah miliki sebelumnya. Meski demikian perbawa ilmu itu masih tetap mengerikan dan bahkan lebih dahsyat.
Di samping itu dia juga sudah berhasil melatih 2 ilmu gaib yang dia dapatkan bersama dengan ke tiga kitab kuno di Tebing Langit, yaitu “Sinar Sakti Mata Pedang” yang memiliki tenaga penghancur yang tak tertandingi. Ilmu ini dapat di salurkan lewat mata, tapi hanya boleh dikerahkan 2 kali dalam 300 hari karena sangat menguras tenaga murni. Ilmu ke dua adalah “Pat-Sian-Sin-Hoat” yaitu Ilmu penguasaan tenaga batin tingkat tinggi yang dapat mewujudkan pengembangan ilmu sihir.
Setelah setahun lewat. Han Sian keluar dari lembah tersebut. Menghirup udara segar dunia bebas kembali membuat dia senang. Tapi sayang, pengaruh peristiwa kematian Hui Si merubah watak aslinya yang tidak suka membunuh menjadi sebaliknya. Sepak terjangnya tidak segan-segan menurunkan tangan maut dan telengas terhadap orang-orang yang di temuinya berbuat jahat. Nampaknya ini pertanda buruk bagi dunia Hek-to.
Disamping itu pengalamannya yang luar biasa dalam lautan cinta bersama Hui Si, meninggalkan bekas yang menjadikan pemuda ini nampak sangat romantis dan membuka tangan kepada semua wanita yang dekat dengannya. Ini juga pertanda yang kurang baik bagi dunia asmara.
Dari sejak dia keluar lembah, Han Sian telah melakukan perjalanan yang cukup jauh, bahkan memakan waktu berbulan-bulan sampai akhirnya tibalah dia di sekitar tembok besar. Saat dia memasuki sebuah dusun, hatinya tertarik karena telinganya mendengarkan suara tangis meraung-raung beberapa orang penduduk.
Segera kakinya berbelok mengarah ke pekarangan salah satu rumah terdekat di mana dia menemukan seorang petani dusun yang sedang merangkul seorang wanita yang tampaknya adalah istrinya yang terus menangis sedih.
“Maaf paman, saya pendatang baru di sini, bolehkah saya tau apa yang telah.....Ehh...?!” Han Sian Terkejut. Belum selesai perkataannya tiba-tiba wanita yang ada dalam rangkulan suaminya itu sudah bangkit berdiri dan berlari menyambutnya sambil mencakar-cakar seperti orang gila...
“Kau...kau...penculik bayi....kembalikan...kembalikan anakku...” teriaknya “...kembalikan anakku...”
Dengan tenang HanSian memegang pergelangan tangan wanita itu dan segera wanita itu menjadi lemas tak bertenaga.
“Anak muda jahat, kau pastilah penculik bayi kami?...Aku akan mengadu jiwa denganmu...” Laki-laki tersebut, begitu melihat istrinya terjatuh lemas, tak dapat menahan hatinya lagi, langsung menyambar cangkul di sampingnya dan menyerang Han Sian dengan cangkul tersebut.
Tapi apalah artinya seorang petani kasar yang kerjanya sehari-hari hanya mencangkul di sawah? Dia tidak tahu kenapa, tiba-tiba gagang cangkulnya patah di tengah bagian tengah...
“Maaf paman, saya adalah seorang pelancong yang kebetulan lewat di sini dan saya tidak bermaksud jahat....mungkin saya bisa membantu paman”
Petani itu menatap pemuda di depannya dengan tatapan menyelidiki. “Orang muda, kau pergilah dari sini. Kalau kau bukan orang yang kami maksud, lebih baik pergi dari sini...” Sambil berkata demikian petani itu membalikkan tubuh dan kembali merangkul istrinya tanpa memperdulikan Han Sian.
Han Sian penasaran, namun dia tidak mau memaksa orang. Sambil menarik nafas panjang, dia melangkahkan kakinya keluar dari pekarangan rumah tersebut.
Dia melewati beberapa penduduk yang tampaknya juga mengalami masalah yang sama. Tapi anehnya mereka tetap menutup mulut. Saking jengkelnya Han Sian terus melangkah dengan muka masam sampai tibalah dia di pinggir sebuah sungai.
Seketika hatinya senang. Kakinya melangkah mendekati sungai tersebut. Tapi segera telinganya menangkap bunyi yang tidak beres dan segera menuju asal suaratersebut. 5 orang lelaki kekar dan berewok sedang tertawa-tawa senang di sela-sela jeritan ketakutan suara 2 orang wanita muda yang manis.
“Jangan...ohh...jangan” seru seorang gadis sambil berusaha melepaskan diri dari pegangan dua orang di kanan-kirinya. Sedangkan ketiga orang pria yang lain sedang bergantian memegang dan menindih gadis yang satunya lagi yang sudah tidak berdaya dan hanya mengeluarkan suara rintihan lirih sambil menggigit bibirnya yang berdarah.
Melihat hal ini, seketika Han Sian menampakkan diri.
“Huhh, sungguh kalian manusia-manusia tak layak hidup dan patut mampus...”
Ke lima orang itu terkejut dan segera melompat berdiri. “Siapa kau, apa urusanmu mencampuri urusan kami?...” bentak salah satu dari mereka.
Han Sian tidak memperdulikan mereka. “Nona, jawablah pertanyaanku, Nona...apakah kau melayani mereka dengan rela?...” Ini memang pertanyaan, namun hakikatnya tidak perlu di tanyakan. Tapi kalaupun itu di tanyakan hanyalah untuk menemukan alasan yang kuat saja untuk bertindak.
Gadis itu tertegun sejenak...” Tidak...kami tidak mau...mereka memaksa kami”
Kelima orang itu, merasa diri mereka tidak di tanggapi menjadi semakin marah. Pemuda lancang. Segera mereka bermaksud menyerang. Tapi belum sempat mereka bergerak tau-tau terdengar suara mencicit tajam dari tangan Han Sian dan di lain saat ke lima orang tersebut terpental kebelakang dengan dada hancur berlubang tersambar hawa pukulan dari jari-jari tangannya..
“Iiihhhh...” Gadis yang masih sadar itu menjerit lirih dan sesaat kemudian dia telah pingsan.
Han Sian segera mengangkat ke dua gadis yang malang tersebut menjauh dari tempat itu.
Tak lama kemudian, setelah di urut-urut, kedua gadis tersebut sadar. Tapi gadis yang telah di perkosa tadi sudah tidak sanggup berdiri lagi.
Han Sian menatap mereka berdua kemudian bertanya kepada gadis yang satunya lagi.
“Nona...kalau bo...” “Yan-er, panggil saja aku Yan-er” potong gadis itu. Hal ini membuat Han Sian terdiam sesaat.
“Baiklah, nona Yan, kalau boleh ku tau, apakah yang terjadi di sini...?
Gadis itu menunduk dengan sedih. “Sambil terisak dia menjawab lirih, In-kong, entah malapetaka apa yang menimpa kami. Sudah hampir se bulan ini semua bayi-bayi di bawah satu tahun hilang di culik orang dan kami tidak tau siapa yang melakukan hal ini...” setelah dia berhenti sejenak “apalagi gerombolan para perampok yang mengetahui keadaan kami ini uga memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan...”
“Hemm...Apakah ada kecurigaan, siapa dalang semua ini?”
Mendengar pertanyaan ini, wajah gadis itu seketika berubah. Dia melirik kesana-kemari dengan ketakutan.
“Jangan khawatir nona, Aku akan menjamin keselamatanmu...”
“Ba...baiklah in-kong, aku tidak takut, lagipula hidup kami kau yang selamatkan.” Sejenak dia menarik nafas panjang, “Dusun ini, juga beberapa dusun lainnya yang berdekatan berada di sekitar lembah Rawa Hijau. Dahulu tempat itu tidak berpenghuni, tapi sekarang sudah ada. Namun kami tidak tau apa hubungannya yang lebih jelas.”
---lovelydear---
Hari menjelang malam di pinggir sebuah rawa lumpur yang luas di dekat tembok besar. Suasana di pinggir rawa itu sepi-sepi saja. Namun bagi Han Sian, yang memang mempunyai maksud untuk datang ke tempat tersebut. Segera meningkatkan kewaspadaannya.
Sekali mengenjotkan tubuhnya, dia mengerahkan Thian-In Hui-cu (Menunggang Awan Langit). Tubuhnya melayang di atas pepohonan mendekati bagian terdalam dari lembah Rawa Hijau.
Tidak ada halangan. Tampaknya para penghuninya, kalaupun ada, sangat terlalu percaya diri. Dalam sekejab Han Sian sudah melihat sekumpulan orang yang sedang berkumpul di tengah lembah tersebut. Jumlah mereka ada 3 orang laki-laki tua. Anehnya, ketiga orang ini tampak berjungkir balik dengan kepala di bawah.
Sementara tangan mereka memegang tengkorak-tengkorak kepala bayi. Saat mereka mulai mengerahkan tenaga yang berhawa panas, kepala-kepala bayi tersebut mengeluarkan asap dan perlahan-lahan mulai menyusut. Asap-asap tersebut tidak lari kemana-mana tapi masuk ke dalam mulut mereka.
Sampai berapa lama mereka berlatih dan akhirnya ketiganya kembali berjumplitan ke udara dengan sebat. Dilain saat mereka telah saling menyerang dengan pukulan-pukulan dahsyat yang berhawa keji. Itulah Hui-Kut-Tok-Im-Ciang (Pukulan Racun Dingin Tulang Api).
Sementara ketiga orang ini terus berlatih dengan hebat, tiba-tiba terdengar suara mendengus.
“Huh, ternyata kalian penyebab malapetaka bagi para penduduk di sekitar sini...?!”
Ketiga orang itu segera menghentikan serangan mereka, dan memandang penuh selidik
“Siapa kau...?”
“Heh, siapapun aku adanya kalian tidak perlu tahu. Aku hanya datang untuk menghentikan perbuatan-perbuatan kalian yang jahat dan membawa kepala kalian kepada para penduduk di sekitar yang telah kalian rugikan.”
“Hoaahahahahah...” ketiga orang itu tertawa, salah satunya yang tertua berkata: “Kau bocah ingusan yang tidak tahu tingginya langit, berani mencari mati di sini...tahukah kau siapa kami?...”
Han Sian diam saja sambil terus menatap tajam ke arah mereka.
“Dengarlah orang muda, kami adalah Tee-Tok-Sam-Kwi, kami adalah salah satu dari 5 Iblis Bumi yang sakti“. Orang yang termuda yang meneruskan penjelasan kakaknya dengan suara angkuh sambil berharap pemuda di depannya ini akan kedar dan ciut nyalinya.
Tapi kembali dia kecelik. Yah, keistimewaan dari tiga orang ini memang terletak dari keberadaan mereka yang selalu bersama-sama. Meskipun demikian dalam urutan 5 Iblis mereka tetap di hitung satu dan menempati urutan ke empat dalam susunan para iblis tersebut.
Namun untuk berharap Han Sian akan takut, maka masih jauh dari kata mungkin karena pada dasarnya Han Sian memang belum pernah mendengar nama mereka.
“”Aku tidak tahu dengan nama Iblis kalian. Aku hanya ingin membawa kepala kalian saja.”
“Eh, sombongnya anak ini...?!” Berkata demikian, Orang ke dua di antar mereka segera menyerang Han Sian yang segera di elakkan pemuda itu dengan mengengoskan tubuh ke samping sambil memapaki pukulan lawan dengan kedua jari yang di luruskan. Dari tangannya keluar berkas pedang yang terbuat dari asap berwarna merah. Itulah salah satu jurus dari Bu-Tek Chit-Kiam-Ciang, yaitu Ang-In-Kiam-cu (Jalur Pedang Awan Merah).
“Aiaaaaaa.....” Orang kedua dari ketiga iblis tersebut menjerit dan segera melontarkan tubuhnya ke belakang. Tak di sangkanya ilmu lawan sedemikian dahsyat. Untung dia cepat menarik tangannya. Kalau tidak pastilah sudah menjadi korban hawa pukulan tajam yang sangat kuat tadi.
“Serang sama-sama” Segera terdengar suara komando dari yang tertua. Maka mulailah mereka mengurung Han Sian dan menyerangnya dengan pukulan andalan mereka yaitu Hui-Kut-Tok-Im-Ciang.
Malam yang dingin itu, terjadi pertempuran yang dahsyat. Tigapuluh jurus telah berlalu, namun sejauh itu belum juga ketiga Iblis itu dapat mendesak Han Sian. Bahkan justru pemuda itu yang terus mendesak mereka dengan jurus-jurus jari pedangnya yang aneh.
Lewat lima jurus kemudian, tiba-tiba Han Sian merobah permainannya. Tangan kirinya tetap memainkan jurus Ang-In-Kiam-Cu sedangkan tangan kanannya bersilat dengan jurus ke dua yaitu Hoa-jian-Kiam-Cu (Jalur Pedang Seribu Bunga).
Dari jarinya keluar hawa pedang tanpa ujud yang mengeluarkan bau harum bunga, tapi sangat dahsyat. Menghadapi serangan-serangan tersebut. Ketiga orang ini tak sanggup berbuat banyak. Hingga akhirnya merekapun jatuh terpukul.
Han Sian tidak berhenti sampai di situ saja. Sekali dia menggerakkan Thian-In Hui-cu, tubuhnya tiba-tiba lenyap dari pandangan lawan, dan di lain saat terdengar jeritan orang pertama-dan ke dua yang meregang putus nyama mereka dengan kepala terpisah dari badan.
Perlahan dia turun ke tanah sambil matanya memandang tajam ke arah orang ke tiga. Orang yang di tatapnya itu nampak pucat pasi, akhirnya tanpa dapat di cegah lagi dia terjatuh dengan lutut gemetar ketakutan tanpa dapat bersuara.
“Hemmn, aku beri kau kesempatan untuk menebus dosamu, bawa kepala ini dengan kedua tanganmu, dan akui semua perbuatan terkutuk kalian, kau hanya boleh mengerahkan tenaga agar tidak mati dari penganiayaan mereka...Ingat! bilamana aku melihat kau melawan...maka tanganku akan menjadi tangan iblis yang akan membuat matimu matimu lebih mengerikan dari kedua saudaramu, mengerti...?”
Iblis ke tiga itu hanya mengangguk saja dan melakukan apa yang di perintahkan Pemuda sakti di hadapannya ini.
Akhirnya menjelang pagi, Orang ke tiga dari Tee-Tok-Sam-Kwi yang sangat terkenal sakti ini berjalan lesu menuju ke arah perkampungan dan mengakui perbuatannya dan saudara-saudaranya.
Para penduduk desa yang menginterogasinya kemudian mendengar pengakuannya dan ceritanya bahwa dia serta kedua saudaranya di kalahkan oleh seorang yang bertangan Iblis. Para penduduk kemudian melampiaskan dendam mereka.
Dengan tenaganya yang sisa setengah, dia melindungi tubuh bagian dalamnya agar tidak mati. Tapi setiap kali dia mau melawan, matanya menangkap kilatan sinar mata yang mengancam dari jauh yang membuat hatinya keder dan takut untuk melawan.
Sementara itu Han Sian nampak puas dengan dengan pekerjaannya. Sambil menikmati udara pagi. Dia merebahkan dirinya di bawah sebuah pohon yang rindang. Namun beberapa saat kemudian dia menangkap suara langkah-langkah kecil mendekat. Dia membuka matanya saat langkah-langkah kaki itu tiba di depannya.
Tampak gadis cantik yang di tolongnya dari lima orang di pinggir sungai itu di hadapannya. Gadis itu paling banyak berusia 17 tahun, dan nampak segar. Walaupun hanya gadis biasa namun kecantikan alamiahnya memang cukup menawan dengan lekuk tubuh yang padat berisi.
“Maaf In-Kong, saya tahu bahwa budi pertolongan In-Kong yang membalaskan sakit hati desa kami sangat besar. Dan saya tahu bahwa orang yang sakti seperti In-Kong pasti juga tidak mengharapkan balasan apa-apa, tapi...” Gadis itu terdiam sejenak dengan wajah ragu-ragu dan muka merah...
“Nona Yan, katakanlah, aku tidak akan marah...”
“Be..benarkah In-Kong tidak akan marah...?” tandasnya masih ragu-ragu.
“Iya, aku tidak akan marah.” Sahut Han Sian lembut. Dia tidak habis pikir, mengapa gadis ini menjadi seperti ini.
“Mmm...kalau saya melakukan sesuatu, apakah In-Kong tetap tidak akan marah...?” tanyanya lagi dan kali ini dengan wajah yang lebih memerah..
Han Sian jadi geli hatinya. Segera dia memejamkan matanya, menaruh tangan kirinya di belakang sementara tangan kanannya di angkat sejajar bahu dengan dua jari teracung keatas berbentuk V.
“Benar nona Yan, aku bersumpah bahwa aku sama sekali tidak akan......hmmmmpps..” Tiba-tiba Han Sian tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Matanya terbelalak. Betapa tidak? Bibir gadis itu sudah menempel dan menyumbat mulutnya.
Sesaat dia terkejut, tapi naluri kelaki-lakiannya berbicara lain. Apalagi dia sudah tidak asing lagi dengan hal tersebut. Otomatis tubuhnya bereaksi memberikan sambutan terhadap tubuh gadis yang nampak pasrah itu. Tangan Han Sian bekerja dengan cepat sehingga dalam sekejap saja tidak satupun pakaian gadis itu yang masih menempel di badan. Maka terjadilah pergumulan yang hangat dari kedua insan yang menikmati nikmatnya permainan cinta. Apalagi tatkala Han Sian Mulai menggerak-gerakkan pinggangnya menekan sesuatu yang keras keluar-masuk dengan kuatnya yang di sambut dengan rintihan-rintihan serta erengan lirih dan nikmat dari Yan-Er, sampai akhirnya:
"Aakkkhhhh....oohhhhh..." Gadis itu terkulai lemas, tak kuasa menahan lagi ketika pada puncaknya dia merasakan kenikmatan yang amat...amat sangat...ini terus di ulang oleh Han Sian dan berlangsung selama 2-3 kali.
Waktu berlalu dengan cepat. Hari menjelang sore ketika Han Sian berdiri di pinggir sungai dengan berpakaian lengkap. Di belakangnya gadis itu baru saja habis membetulkan pakaiannya.
“In-Kong, sekarang apa rencanamu?”
Han Sian berbalik dan menghadap pada gadis itu sambil memandang dengan penuh selidik
“Nona Yan, apakah nona menyesal dengan semua yang telah terjadi?”
“Akhh, tidak...bisa menyenangkan orang yang telah menjadi penolongku, justru sangat menyenangkan hatiku...hanya... sebelum berpisah, bolehkah aku mengetahui nama In-Kong? Menyelesaikan kalimatnya, Yan-Er mengangkat wajahnya dan memandang dengan tersipu.
Han Sian membalas senyuman itu sambil mencubit dagu gadis itu. Dilain saat Tubuhnya sudah melayang menyeberangi sungai itu sampai ke seberang dan lenyap dengan cepat.
“Tuan...?” Yan-er berteriak sambil menatap hampa bayangan pemuda itu. Tapi tiba-tiba terdengar suara yang menggema di telinganya.
“Namaku Han Sian, Tee-Tok-Sam-Kwi menyebutku Tangan iblis, maka biarlah mulai sekarang aku pakai nama itu...” perlahan suara itu lenyap.
Yan-er tertegun, dengan lirih mulutnya mengulangi nama yang baru saja sirna dari telinganya: “Tangan Iblis...ya...ya...Pendekar Asmara Tangan Iblis.....Pendekar Asmara Tangan Iblis...”
Entah bagaimana caranya beberapa bulan kemudian, dunia kang-ouw telah mengenal nama julukan ini sebagai salah satu dari beberapa pendatang muda yang sakti di dunia kang-ouw.