Laman

Selasa, 16 April 2013

12. Pengguna Thian-Tok-Khi

“Heiiii….curang…nona awas…!” Hong Sin berteriak memprotes dan memperingatkan. Tubuhnya bergerak secepat kilat sambil mengerahkan Thian-The-Tok-Khi, mengebut asap-asap beracun tersebut.
Namun sebelum tubuhnya bergerak lebih lanjut tiba-tiba terdengar bentakan yang ketus tapi berasal dari suara yang sangat merdu: “Huh, sok jago…siapa butuh bantuanmu, apa kau kira Ang-In-Hoat-sut-I-Ciang (Pukulan Jubah Sihir Awan Merah)ku tak mampu mengatasinya…?”
Hong Sin tertegun dan berdiri bengong. Dari dalam kepulan asap itu terlihat sang gadis yang di bentengi dengan tenaga yang aneh. Lima inchi di sekitar tubuhnya di lindungi oleh hawa sakti yang aneh berwarna merah sehingga tidak tertembus apapun. Memang kenyataannya gadis itu tidak membutuhkannya. Bahkan di hadapan gadis itu telah terlentang tiga mayat, satu mayat topeng Emas dan dua lagi Topeng Perak. Sementara yang sisa telah melarikan diri entah kemana sehingga dalam sekejap tersisa mereka berdua saja. Diam-diam dia menjadi malu sendiri, segera dia menjura sambil berkata:
“Harap nona maafkan cahye yang tidak tahu tingginya gunung Thai-san sehingga unjuk kebodohan… cahye mohon permisi tidak mengganggu lagi…!” Habis itu dia membalikkan tubuh hendak berlalu dari situ. Namun baru saja dia mau melangkah, bayangan tubuh gadis itu telah menghadang di depannya: “Eh, aku toh tidak mengatakan kau bodoh, mengapakah hatimu mengkal sepert itu?...hihihi”
Hong Sin terdiam. Di tatapnya gadis di hadapannya ini, sungguh cantik sekali, tak kalah dengan Goat Hui Hwa. Hanya kalau Hui Hwa lembut dan agung seperti cahaya rembulan, kalau gadis di depannya ini Nampak ayu seperti cahaya bintang. Teringat akan Hui Hwa, jantungnya berdetak keras, seketika wajahnya menjadi merah seperti udang di rebus.
“Haii…apakah engkau sakit? Mengapa…mengapa wajahmu merah seperti itu?” Suara merdu gadis itu bertanya dengan nada kuatir. Sedangkan matanya yang bersinar-sinar seperti bintang menatapnya dengan tatapan yang penuh selidik, tanpa sadar gadis itu maju satu langkah di hadapan Hong Sin.
“Oh, tid…tidak…aku tidak apa-apa!” Hong Sin tersadar dan menjawab dengan gagap. “Ada apakah nona, mengapa kau menghadang jalanku?”
Gadis itu melotot kepadanya kemudian mendengus sambil berkata lirih: “Huh enak saja kau bilang menghadang!...kau ini laki-laki yang tidak bertanggung jawab, setelah kau turun tangan menolongku lantas kau mau tinggalkan aku sendirian di tengah hutan ini?...Huh, hendak ku lihat kalau saja adik goat tahu kau memperlakukanku seperti ini, entah dia masih mau menggubrismu atau tidak…” habis berkata demikian gadis itu membalikkan tubuh dan langsung berkelebat lenyap dari tempat itu.
“Heh…tunggu!!” Hong Sin gelagapan dan kaget mendengar kata-kata terakhir gadis tersebut, cepat dia meloncat mengejar ke arah gadis tersebut. Namun gadis itu telah menghilang dengan cepat
.
**********************
Hong Sin berjalan keluar hutan dan mulai memasuki kota Su Chuan kembali. Hatinya dongkol bukan main karena tidak menemukan gadis yang di kejarnya. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, siapakah gerangan gadis itu? Mengapa dia mengetahui hubungannya dengan Goat Hui Hwa? Lalau di manakah sekarang Goat Hui Hwa, gadis yang telah menjadi istrinya semalam itu?
Sementara dia mendekati pintu gerbang timur. Keadaan gerbang timur itu begitu sepi tanpa kehidupan apapun yang terlihat. Perasaannya menyiratkan hal yang tidak mengenakkan segera dia mempercepat langkahnya memasuki pintu gerbang tersebut.
Matanya terbeliak! Tiba-tiba di lihatnya banyak sekali mayat bergantungan di sana-sini. Bau busuk yang menyengat hidung di mana-mana. Tampak semua mayat mati dengan tubuh keracunan yang amat ganas. Ketika dia memeriksanya dia terkejut karena racun ini tak kalah hebatnya dengan Thian-Te-Tok-Khi yang di milikinya. Siapa pemilik dari pukulan beracun yang amat ganas ini? Yang begitu kejam menjadikan kota ini sebagai kota mati.
Tubuhnya melangkah maju sambil mengamati sekelilingnya. Sepeminuman teh selanjutnya telinganya menangkap bunyi yang kibasan baju tersampok angin. Segera dia melesat bagaikan kilat menuju ke sumber suara itu. Tak lama kemudian dia tiba di sebuah lapangan di tengah kota itu yang penuh dengan mayat-mayat berserakkan. Terlihat banyak orang yang berkumpul di lapangan tersebut dan kesemuanya terbagi dalam dua kelompok besar.
Sejenak dia mengamati segera dia mengambil kesimpulan bahwa baru saja terjadi pertempuran besar di tempat itu. Terlihat kelompok pertama terdiri dari para pentolan tokok-tokoh golongan putih dari ke sembilan partai besar bersama Pek Sim Sian, It Thian Sian serta Sin Kun Sian sedangkan empat orang yang lainnya tidak di kenal. Sedangkan kelompok yang kedua lebih besar ialah pasukan topeng perak terbagi empat golongan yang masing-masing di pimpin oleh enam pentolan Topeng Emas yang sakti.
Namun yang membuat dia lebih tertarik dan menaruh perhatian bukannya pertempuran hidup mati tersebut, melainkan empat orang dengan hawa pembunuh yang lebih kuat di rasakannya muncul di situ. Jaraknya di seberang antara dia dengan kedua kelompok yang bertempur tersebut jadi searah dengan angin. Yang lainnya adalah tekanan hawa lain yang dahsyat namun tidak mengandung hawa pembunuh dari arah Utara dan Timur.
Sambil bertempur, salah seorang dari antara enam Duta Topeng Emas berteriak: “Haiii…manusia-manusia bodoh, jika kalian tidak segera menyerah maka hari ini dunia persilatan akan kehilangan pegangan untuk terus bertahan hidup…”
Pek Sim Sian Thai Su Lojin tertawa sinis: “Huh, walaupun harus mati, tapi kami Chit-Pai Chit-cu masih memiliki kemampuan untuk menyeret Hekto Kui-Mo ke liang kubur. Huh sunggu mentertawakan, Hekto Kui-Mo yang menakutkan ternyata hanya anjing penjaga pintu dari Mo Kiong Bun, heheheh…”
“Bangsat…di kasi hati minta empedu…serang mereka dengan racun-racun….”
Para tetua persilatan ini mengadakan perlawanan dengan ganas dan sepenuh tenaga. Namun racun-racun yang di lepaskan lawan semakin banyak dan memuakkan sehingga mengurangi perlawanan para tokoh golongan putih ini. Terlihat melihat kondisi mereka yang makin parah, bahkan ada beberapa yang hanya bisa bertahan sambil duduk akibat terkena racun ganas, Hong Sin memastikan bahwa pertempuran itu tidak akan bertahan lebih dari setengah jam lagi. Segera dia akan meloncat untuk membantu namun gerakannya urung saat matanya menangkap bayangan berwarna biru dari seorang gadis cantik menyerang dari atas wuwungan dari rumah di samping kanannya.
“Eh, ternyata dia di sini…!Heiii…mengapa dia juga menguasai ilmu itu? Apa hubungannya dengan Hui-moi?” Membatin Hong Sin melihat gadis ini. Yang lebih aneh lagi saat gadis itu mulai menyerang para Duta Topeng Perak dari luar kepungan gadis itu memainkan ilmu Bian-Ciang Chap-Sha-Ciang (Tigabelas Pukulan Tangan Kapas) yang sakti. Tubuh gadis itu berkelebat bagaikan malaikat maut sehingga merusak barisan sebelah luar.
“”Perempuan binal dari mana berani mengacau di sini?...” Melihat pendatang baru ini yang cukup lihai, salah satu dari enam Duta Topeng emas membentak marah namun tak berani meremehkan, segera dia memerintahkan dua kawan Topeng Emas yang lain bersama dengan duapuluh Duta Topeng Perak yang lain keluar dari barisan dan mengurung gadis cantik berpakaian biru tersebut.
“Huh, jangan kau kira dengan mengandalkan diri kalian bias mempersulitku! Cepat panggil keluar Duta Topeng Kemala kalian karena aku mempunyai perhitungan yang belum selesai dengan dia…” Jawaban gadis itu seperti orang marah, namun suara yang keluar dari bibirnya ternyata amat lembut dan merdu. Siapapun tak akan percaya. Sejenak para pengepungnya tertegun.
Menggunakan kesempatan orang lagi bengong ini, sang gadis memekik nyaring dan menyerang dengan hebat sekali dengan Bian-Ciang Chap-Sha-Ciang (Tigabelas Pukulan Tangan Kapas)nya. Terdengar jeritan nyaring saat tiga orang Duta Topeng Perak terlempar dengan dada hancur. Dua Duta Topeng Emas dan Topeng Perak yang lain segera tersadar lalu berteriak-teriak marah sambil melancarkan serangan-serangan yang dahsyat.
Puluhan jurus kemudian kembali gadis itu mengubah jurusnya, yaitu dengan menggunakan dengan ilmu Cui-Beng Chit-Seng-Khi (Hawa Tujuh Bintang Pengejar Nyawa) warisan salah satu tokoh Bulim Su-Sian yang dahsyat. Terdengar jerit mengerikan saat delapan orang terlempar dan mati seketika terkena pukulan bertenaga dalam tinggi, walau demikian tanpa sadar gadis itu telah terpancing masuk bergabung dengan para tetua persilatan yang sudah mulai kelelahan. Saat itu Lawan-lawan pasukan Duta Topeng Emas dan Topeng Perak mulai bertarung jarak jauh dengan melancarkan pukulan-pukulan dahsyat di sertai racun-racun berat.
Karena khawatir akan keadaan keempatbelas tetua yang sudah kehabisan tenaga dan keracunan tersebut Gadis berpakaian biru itu tiba-tiba mendelik kearah persembunyian hong Sin terus membentak dengan jengkel: “Eh, pria bodoh dan tak punya hati, mengapa kau belun juga turun tangan? Apa menunggu mereka semua mati keracunan baru kau mau keluar?...”
Kala itu Hong Sin sedang memusatkan Hud-Kiam-Gannya untuk mengawasi sekeliling tempat itu. Ini di sebabkan tiba-tiba dia merasakan dua hawa yang dahsyat saling tindih, namun itu bukan dari mereka yang sedang bertempur di bawah sana. Hawa Pembunuh yang pertama sangat pekat mengerikan terpancar dari bangunan bertingkat lima di sebelah kanannya, sedangkan hawa yang lain menekan dengan sangat kuat datang dari pepohonan yang rimbun di pinggir lapangan sebelah kirinya. Hud-Kiam –Gannya menerawang dua orang kakek yang sudah sangat tua, satu hwesio berperut buncit dan satu lagi seorang kakek kurus membawa botol arak. Sedangkan dari arah bangunan dia melihat empat orang. Yang satu memakai topeng Emas, yang satu seorang wanita bertopeng Kemala dan yang dua lagi pria berpakaian hitam dan berkerudung hitam, dia tidak tahu siapa mereka.
Saat itulah tiba-tiba di dengarnya seruan bernada kejengkelan keluar dari mulut gadis itu. Segera dia melirik dan menampak tatapan gadis itu yang terarah kepadanya. Dalam hatinya tertawa masam sambil menggaruk kepala. Sekali tubuhnya bergerak pesat dia telah bergerak bagaikan kilat menyambar dan tahu-tahu sudah ada dalam kepungan di tengah lapangan tersebut.
Segera dia mengerahkan Thian-Te Tok-Khi (Hawa Racun Langit Bumi), bagian Thian-Tok yang dahsyat mengebut pergi semua hawa beracun yang menyesakkan paru-paru di sekeliling tempat itu dan menggantikan dengan hawa yang harum luar biasa. Di lain saat tubuhnya bergerak dengan kecepatan luar biasa memasukkan masing-masing sebutir pil anti racun kedalam mulut para tetua persilatan yang tadinya telah keracunan hebat tersebut.
“Cepat kalian tarik nafas sebanyak tujuh kali dan gerakkan keseluruh tubuh, agar racun-racun di tubuh kalian segera lenyap…” Habis berkata begitu Hong Sin melirik kepada gadis berpakaian biru itu sambil tersenyum. Sang gadis manakala menampak pemuda itu tersenyum kepadanya lantas mencibirkan bibirnya kemudian melanjutkan serangannya yang dahsyat kearah dua orang dari Duta Topeng Emas di hadapannya, kontan mereka terdesak mundur kebelakang.
Hong Sin kemudian bergerak lincah sambil memainkan Im-Yang Tok-Kiam-Ci dan mendesak mundur para Duta Topeng Emas yang lain. Saat itu tiba-tiba terdengar teriakan menggelegar saat dua bayangan melesat dari arah kanan. Satu bayangan yang langsung menyerang Hong Sin dengan dahsyat bagai gugur gunung. Sedangkan bayangan yang lain menyerang Gadis berpakaian biru tersebut dengan hawa pukulan yang membuat Hong Sin terbeliak kaget, karena itu bukan lain adalah Thian-Tee Tok-Khi tingkat ke delapan, bagian Tee-Tok yang amat beracun.
“Bangsat pengacau…coba rasakan racun Ngo-Kwi-Tok Sin-Khi (Hawa Sakti Lima Racun Iblis) tingkat Sembilan milikku ini…?”
“DHAAAAAAAAAARRRRRR……” “BLAAAMMMM …..” “Hoeeekhhh….”
Debu mengepul sana-sini. Pancaran racun-racun yang amat ganas bertebaran di sekeliling tempat itu dalam jarak lima tombak. Hong Sin tetap berdiri tegak di atas tanah sedangkan bayangan yang menyerangnya tadi terlempar ke belakang menyambar tembok di belakangnya sambil memuntahkan darah segar. Sementara bentrokan antara bayangan satunya lagi dengan gadis berpakaian biru tersebut ternyata adalah Duta Topeng Kemala itu hampir sama kuat dengan gadis berpakaian biru tersebut. Kaki gadis itu melesak satu inchi ke tanah sementara Duta Topeng Kemala tergentak mundur tiga langkah ke belakang membawa luka dalam yang cukup serius. Untung saja Thian-Te Tok-Khi yang di milikinya walaupun amat dahsyat namun belum mencapai puncaknya sehingga gadis berpakaian biru itu masih dapat menahannya apalagi saat dia mengerahkan ilmu Ang-In-Hoat-sut-I-Ciang (Pukulan Jubah Sihir Awan Merah)nya yang dahsyat.
Bayangan hitam yang menyerang dengan racun Ngo-Kwi-Tok Sin-Khi (Hawa Sakti Lima Racun Iblis) itu ternyata adalah Gan-Kongcu, ketua dari salah satu diantara 5 partai sesat Mo Kiong Bun. Karena kekejiannya dalam waktu singkat dia telah melatih ilmu racunnya sampai tingkat ke-sembilan sehingga berhasil di angkat menjadi Su-Hu-Pangcu Mo Kiong Bun. Dia mengira ilmu racunnya sudah tergolong tanpa tandingan, namun kini terlihat wajahnya pucat pias, karena hasil dari bentrokan tadi dia kalah tenaga sehingga hawa racunnya berbalik menyerangnya. Ternyata Hong Sin sempat mengerahkan kekuatan puncak dari Thian-Te Tok-Khi yang di kerahkan bersamaan dengan Kim-I-kang sehingga hasilnya berkali lipat lebih dahsyat.
Sebenarnya hawa racun dari Gan-Kongcu ini sudah begitu dahsyat. Bila di banding dengan Thian-Te Tok-Khi yang di lepaskan oleh si Duta Topeng Kemala itu maka hawa racunnya boleh di bilang setingkat, namun bila ingin di bandingkan dengan Hong Sin yang menguasai inti ilmu tersebut dari sang penciptanya sendiri, sungguh bedanya jauh sekali.
Hong Sin sendiri sangat terkejut, bukan dengan kekuatan ilmu racun dari Gan-Kongcu, tapi dengan Duta Topeng Kemala yang sanggup menggunakan ilmu warisan keluarganya tersebut. Seingatnya hanya dia dan cicinya yang menguasai ilmu tersebut. Pikirannya berkelebat dengan cepat, dia sekarang juga sedang mencari cicinya, satu-satunya saudaranya yang masih hidup. Apakah Duta Topeng Kemala ini ada hubungannya dengan cicinya yang lenyap itu?
Tubuh Hong Sin tiba-tiba melesat pesat kearah Duta Topeng Kemala. Tangan kanannya bergerak mencengkeram bahu gadis itu dan membentak: “Siapa kau, mengapa kau juga menguasai Thian-Te Tok-Khi…?”
Saat itu juga berkesiurlah hawa beracun yang pesat dan amat kuat bagai gugur gunung Thai-San saja memapaki serangannya. Hong Sin tertawa sinis. Serangannya tidak berhenti namun lengan kirinya di tarik dan membalik menyambut serangan tersebut dengan sepuluh bagian tenaga dalamnya dan pengerahan jurus pertama dari ilmu Sian-Tok Sam-Sin-Kang (Tenaga Sakti Tiga Racun Dewa). Hebat sekali akibatnya, saat kedua tenaga itu bertemu, pembokong itu berseru kaget:
“Iiiiikhh…..” Tidak terdengar suara apa-apa saat dua lengan mereka beradu namun saat itu terdengar pekikan lirih dari musuh yang membokong dan menghalangi serangannya pada Duta Topeng Kemala itu, dan pekikan ini sempat terdengar oleh Hong Sin. Nampak lawan terdorong mundur setengah langkah, namun lengan Hong Sin juga tergetar kuat sehingga membatalkan cengkeramannya pada bahu Duta Topeng Kemala.
Di lain saat terdengar dengusan dari Si pembokong yang setelah di perhatikan adalah seorang pria yang berperawakan sedang dan berpakaian serta berkerudung hitam: “Huh, apa kau tak malu menyerang dan mengambil keuntungan dari orang yang sudah terluka? Pendekar macam apa kau ini…?”
Hong Sin tertegun sejenak, mukanya menjadi merah… ”Eh, aku hanya ingin tahu siapa dia yang bisa memainkan Thian-Te Tok-Khi…lain tidak…”
“Huh, kau memang hebat sudah mengalahkan Sam-Hu-Pangcu dan Su-Hu-Pangcu kami, kami tidak akan memperpanjang lagi masalah ini sekarang, apalagi kalian masih menyembunyikan dua orang pengecut yang tidak berani muncul, namun akan tiba masanya dimana kalian akan mengalami kehancuran total oleh Mo Kiong Bun kami…”
“Hohohoho…Pemabuk sinting, apakah kau melihat ada kucing ompong yang mau berubah menjadi harimau…?” Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring sambil tertawa-tawa mengejek seolah-olah menjawab makian orang berkerudung hitam tersebut. Saat itu muncullah seorang Hwesio yang berkumis serta janggut putih dan berperut buncit. Kedatangannya bagaikan bayangan hantu saja saking cepatnya.
“Huh, hanya sebangsa kucing busuk untuk apa di hiraukan, tapi bagaimana kalau kita buat jebakan kucing dan mengumpankannya pada harimau betulan?…!” Tak kalah hebatnya juga tiba-tiba muncul lagi bayangan seorang kakek kurus dan ceking macam orng berpenyakitan
“Cui-Sian Sin-Ci (Dewa Arak Berjari Sakti)…!”
“Bu-Beng Kim-Hud (Budha Emas Tanpa Tanding)…!”
Terdengar seruan-seruan tertahan di sana-sini. Semua orang tahu persis siapa kedua tokoh yang baru datang ini yang tak lain adalah dua pentolan dari Bulim Su-Sian yang amat sakti. Rupanya kedua tokoh inilah yang di maki pengecut oleh si pembokong berkerudung hitam tersebut.
Melihat dua pendatang ini, pria berkerudung itu mendengus tanpa menjawab. Terlihat tatapannya beralih kepada bayangan lain yang belum menampakkan diri dari bangunan tingkat lima. Di lain saat tubuhnya berkelebat lenyap diikuti Duta Topeng Kemala, Duta Topeng Emas dan Topeng Perak yang tinggal berjumlah tak sampai setengah dari para pengeroyok tadi.
Hong Sin tidak tahu siapa orang misterius itu. Hanya dia tahu bahwa orang itu mempunyai ilmu kepandaian yang sukar di ukur. Hawa pembunuh yang amat pekat dari orang inilah dirasakan oleh Hong Sin serta kedua tokoh Bulim Su-sian yang baru datang tadi sebelum mereka memunculkan diri. Bahkan kedua tokoh Bulim Su-Sian itupun tidak berani sembarang menghalangi ketika orang tersebut berlalu dari tempat itu.
Para ciangbunjin serta Chit-Pai chit-cu membungkuk dengan hormat di hadapan dua tokoh dari Bulim Su-sian tersebut. Namun Cui-Sian Sin-Ci menolak keras sambil menunjuk Hong Sin dan berkata: “Hehehe…bukan kami yang menolong kalian, kalau tidak ada pemuda dan gadis itu mungkin kamipun tidak dapat berbuat banyak dengan racun-racun mereka yang mengerikan, seharusnya kepada dialah kalian mengucapkan terima kasih….”
Pek Sim Sian, Thai Su Login serta Ciangbunjin Siauw-Lim-Pai Kim Goan Taysu maju kehadapan pemuda tersebut. Dan berkata dengan nada penyesalan: “Hong-Tayhiap, harap maafkan keteledoran kami yang sudah salah menuduh tayhiap atas peristiwa yang lampau…kali ini tayhiap sudah menyelamatkan jiwa kami, atas kesalahan yang lalu kami tiada muka untuk menginjakkan kaki lagi di atas bumi ini…”
Hong Sin terkejut, hatinya tidak enak: “Eh…Jiwi suhu terlalu serius menanggapi peristiwa ini. Cahye tidak berani menerima sebutan tayhiap ini. Selama ini cahye tidak pernah mempermasalahkan peristiwa yang lalu lagipula telah kuketahui sejak lama akan adanya gerakan rahasia dari Mo Kiong Bun untuk menguasai duania persilatan dan membasmi tokoh-tokoh golongan putih …bahkan sudah lama menyelidikinya…” Berhenti sejenak dia kemudia melanjutkan lagi: “…Hanya di masa yang akan datang kiranya akan merepotkan locianpwe sekalian untuk sudi menyibukkan diri membasmi sumber kerusuhan ini…” Hong Sin kemudian menjelaskan secara rinci semua yang di ketahuinya mengenai gerekan Mo Kiong Bun serta ke-empat partai sesat lain yang bergerak di bawah perintah Mo Kiong Bun.
Bu-Beng Kim-Hud (Budha Emas Tanpa Tanding) tiba-tiba bertanya kepada Hong Sin: “Hohoho…kalau menurut yang kau katakan, itu berarti dunia persilatan terancam kemusnahan yang serius…?”
“Benar locianpwe, bahkan menurut penyelidikan cahye, ada banyak agen-agen dari Mo Kiong Bun yang telah di susupkan ke dalam partai-partai golongan lurus dan siap menantikan perintah untuk bergerak. Harap cuwi sekalian jangan pandang enteng gerekan para penyusup ini, karena gerekan mereka telah terbukti dalam meruntuhkan It-Kok Sam-Kiong (Tiga Istana Satu Lembah)…”
Para ciangbunjin ketujuh partai yang ada terkejut setengah mati. Ternyata hal seserius ini tidak pernah di sangka oleh mereka sebelumnya. Bisa di bayangkan bila It-Kok Sam-Kiong (Tiga Istana Satu Lembah) saja bias di bobol, apalagi partai-partai ini. Diam-diam ada kekhawatiran di dalam hati mereka.
Gadis ayu berbaju biru itu yang sejak tadi hanya diam saja, tiba-tiba mengeluarkan suara yang merdu:
Bersambung...

11. Persembahan Sang Bulan

“Huh, di sini sudah tidak ada urusanmu, mengapa engkau tidak berlalu saja?” Seru gadis itu dengan ketus.
“Hehehe…orang-orang bodoh itu boleh di tipu olehmu, tapi aku tidak. Aku akan tetap membunuh bangsat itu…”
“Bagus kau mau mencari perkara denganku? Terimalah ini…” Hui Hwa membentak dengan gemas sambil melancarkan serangan dahsyat dengan ilmu Bian-Ciang Chap-Sha-Ciang (Tigabelas Pukulan Tangan Kapas), ini adalah salah satu ilmu andalan dari para penghuni Istana Bulan & Bintang. Dalam waktu singkat dia telah menyerang dengan dahsyat sebanyak lima jurus tanpa henti.
Tabuli Chin membalas dengan Ang-Jit-Sin-kang dengan tidak kalah hebatnya sehingga terjadilah perempuran dahsyat antara kedua orang itu.
Melewati jurus ke limapuluh, Tabuli Chin mendongkol bukan main. Apalagi saat di lihatnya Hong Sin sedang bersemedi memulihkan tenaga. Tampak dari ubun-ubunnya keluar uap putih yang tebal tanda semedinya sudah mencapai puncaknya dan berada dalam keadaan yang kritis.
Melihat ini, terbersit pikiran di benaknya: “Huh, kalau dia sempat menyelesaikan semedinya, tiada kesempatan lagi bagiku untuk membunuhnya.” Seketika itu juga dia bersiul nyaring memanggil keempat dayangnya.
Begitu mendengar siutan tersebut, perasaan Hui Hwa tidak enak, dia tahu ada yang tidak beres. Saat itu juga berkelebatlah empat bayangan putih bagaikan hantu di tempat itu. Tanpa pikir panjang Tabuli Chin segera berseru: “Gunakan jurus pembunuh yang paling dahsyat dan bunuh pemuda itu dengan cara yang paling cepat…jika gagal potong tangan kalian masing-masing”
Setelah memberi perintah, tubuhnya menyusul dengan satu terjangan kedepan dengan sepenuh tenaga. Kedua tangannya bergantian menyerang dengan jurus paling dahsyat yang bernama “Raja Iblis Menipu Para Dewa”. Yang kanan bergerak dengan gerakan yang amat lambat namun penuh dengan pengerahan hawa Ang-Jit-Sin-Kang, sedangkan tangan kiri menyerang sangat cepat dengan pengerahan tenaga Hian-Im-Ciang yang dahsyat. Ini adalah jurus andalan gurunya yang ke dua yang merupakan salah satu dari Sam-Hok-Kok-cu (Tiga Kokcu Penakluk).
Goat Hui Hwa terkejut melihat serangan lawan, namun dia tidak keder segera Ilmu “Melayang Bagai Kapas” di kerahkan. Badannya justru terangkat dari tanah dan melayang mengikuti arah pukulan lawan sementara hawa pukulan lawan di netralisir dengan mengerahkan Bu-Beng Goat-Kui-Ciang (Tenaga Sembilan Bulan Tanpa Bayangan). Hebat sekali pertandingan adu pukulan sakti yang di lambari tenaga dalam-tenaga dalam yang amat dahsyat ini.
Tabuli Chin terkejut bukan main, tak di sangkanya gadis yang kelihatan lemah lembut di depannya ini sedemikian saktinya. Hampir-hampir dia tidak dapat mempercayainya karena sedikitpun dia tidak ungkulan melawan gadis tersebut. Lebih terkejut lagi saat itu saat tatapannya melirik kearah keempat dayang saktinya yang mengerubuti Hong Sin. Mereka semua telah berdiri kaku seperti patung. Sementara di lihatnya Hong Sin telah berdiri sambil menatapnya dengan tajam. Tahulah dia bahwa usahanya telah mengalami kegagalan total. Segera dia mendengus kemudian meloncat jauh meninggalkan pertempurannya dengan Hui Hwa.
“Mau lari kemana kau?...” Bentak Hui Hwa sambil mengerahkan tenaga untuk mengejar.
“Biarkan dia Goat-Moi, musuh yang sudah lari untuk apa di kejar…” Hong Sin mencegah gadis itu.
Goat Hui Hwa membalikkan tubuh kemudian memandang dengan tatapan penasaran: “Tapi dia bermaksud membunuhmu… kau??!”. Gadis itu hendak melanjutkan perkataannya namun tubuh Hong Sin tiba-tiba berkelebat dengan amat cepat kehadapannya. Wajah mereka saling memandang dengan sangat dekat, sedangkan ibu jari dan jari telunjuk pemuda itu menyentuh dagunya dan menengadahkan wajahnya. Saat itu terdengar suara Hong Sin dengan perlahan dan lembut berbisik:
“Mengapa Goat-moi?...apakah kau tak ingin kalau aku terbunuh?...” Dengan tatapan mesra di pandanginya wajah gadis yang amat cantik dan ayu itu.
Wajah Goat Hui Hwa bersemu merah dadu, di balasnya tatapan pemuda itu dengan hati bergetar. Wajah di hadapannya ini yang selalu di ingatnya dan yang selalu mengisi kalbunya saat dia sendiri, sekarang nampak begitu dekat, tak tahu dia harus berkata apa.
“Aku…aku…auumphh…!!” Hanya kalimat pendek itu yang dapat-di keluarkan karena di lain saat kedua Hong Sin sudah menyumbat bibir yang merah segar itu dengan bibirnya. Kedua bibir mereka bertautan mesra sekali, Hui Hwa ingin menolaknya namun tak kuasa. Segala yang ada di hati tertumpah saat itu juga melalui ciuman tersebut, seakan-akan itu semua telah mewakili semua isi hati yang ada tanpa kata-kata.
Sampai lama mereka beciuman, akhirnya Hui Hwa mendorong dada pemuda itu. Wajahnya terseyum malu-malu dengan nafas terengah-engah: “Sin-koko, kau…akhh jangan begini lagi, aku…aku malu!”. Setelah mengatakan perkataan itu Hui Hwa membalikkan tubuhnya sambil mengerahkan Ilmu “Melayang Bagai Kapas” dia melesat kearah hutan berloncatan dari pohon-ke pohon.
“Goat-moi, jangan lari…” Hong sin berseru sambil berkelebat mengejar. Tubuhnya melambung tinggi dengan pengerahan “Langkah Angin Menembus Langit” mengejar di belakang gadis itu.
Goat Hui Hwa meliriknya sejenak kemudian berkata lagi: “Aku tidak akan lari, tapi akupun telah berjanji hanya mau di miliki oleh pemuda yang dapat mengalahkan aku, kau punya “Langkah Angin Menembus Langit” sedangkan aku punya Ilmu “Melayang Bagai Kapas”, kalau kau dapat menangkapku, aku akan mengikutimu.”
Sebegitu jauh kedalam hutam mereka saling mengejar, hanya terlihat dua kilatan yang sangat cepat hampir tanpa bayangan. Hong Sin harus memeras keringat menguber gadis itu, yang hebatnya Ilmu “Melayang Bagai Kapas” rupanya sudah di kuasai gadis itu sampai dapat di gerakkan sesuka hati dapat berpindah tempat dalam sekejap tanpa perlu berganti nafas, namun bukan berarti Hong Sin ketinggalan. Dengan mengerahkan Sim-Khe (Cermin Hati)nya dia dapat menangkap inti gerakan melayang tanpa berganti nafas gadis itu. Kemudian dia mengerahkan jurus “Jejak Dewa Mendahului Angin” tubuhnya tiba-tiba menyelinap di depan Hui Hwa sambil tangannya memeluk pinggang gadis itu.
Namun gadis yang di peluknya tidak ampil pusing, seolah-olah terpaku di tempatnya sambil memandang dengan kagum. Bibirnya yang kecil mungil tak henti-hentinya mengguman: “Luar biasa, oooohhhh ….indah sekali…!”.
Hong Sin tertegun. Pelukannya mengendor sedang matanya mengikuti tatapan sang gadis yang di cintanya. Sesaat diapun tertegun. Tempat itu memang luar biasa, sebuah lembah yang di kelilingi pemandangan air terjun dan bunga-bunga liar beraneka warna yang indah. Sebuah anak sungai selebar sepuluh tombah mengalir dengan tenang dengan air yang jernih dan udara yang segar. Sungguh suasana romantis yang jarang di cari bandingannya. Apalagi di tambah dengan suasana senja yang amat indah.
Goat Hui Hwa, tersenyum senang. Matanya diarahkan kepada pemuda pujaannya. Di lihatnya pakaian pemuda itu sudah robek sana-sini dan kotor. Segera dia tertawa kecil sambil menggunakan ujung jari menutup bibirnya, kemudian tanpa berkata apapun, dengan lemah gemulai dia berjalan ke pinggir sungai.
Hong Sin terlolong dengan mulut terbuka hampir tak bernafas. Dia terpesona mengikuti melihat gerak-gerik bidadari cantik di hadapannya yang amat mempesona ini. Beberapa saat kemudian matanya terbeliak dengan jantung berdegup kencang.
Goat Hui Hwa berdiri menyamping membelakanginya. Perlahan namun pasti tangannya bergerak melepaskan ikat pinggangnya, kemudian satu per satu jubahnya, serta baju bagian dalamnya di lepaskan sampai gadis itu berdiri dengan tubuh telanjang bulat dan tak berpakaian sama sekali.
Dari arah samping belakang Hong Sin silau oleh kecantikan gadis itu, tampak gadis itu memiliki tubuh yang semampai dan padat dengan lekuk lengkung yang sempurna, terutama kedua bukit kembarnya yang membusung menantang dan pinggulnya yang bulat dan indah menyimpan daya tarik yang sanggup menjatuhkan hati manapun yang melihatnya.
Tanpa memperdulikan kehadiran pemuda itu, Hui Hwa melangkah perlahan menuju ke dalam air sampai air menutupi lehernya. Kemudian dia mulai berenang sambil memekik-mekik kecil dengan senang. Tidak tahu Hong Sin harus berbuat apa, dia hanya berdiri saja menjublek seperti orang bodoh.
“Sin-Koko, apakah kau tidak mau juga menikmati kesegaran air ini, mengapa hanya berdiam saja…”
Bagaikan tersadar dari sihir, pemuda itu tertawa senang…tubuhnya melayang keatas dan berputaran bagaikan gasing. Dalam sekejap pakaiannya yang memang telah robek sana-sini itu hancur menjadi bubuk dari tubuhnya. Tubuhnya melayang turun ke dalam air dan melesak dengan menimbulkan percikan gelombang air yang tinggi.
Sambil tertawa-tawa Hong Sin mendekati Hui Hwa dan berkata mesra: “Goat-moi, kau…”.
Pemuda itu tak jadi melanjutkan perkataannya karena jemari Hui Hwa yang lentik sudah menutup mulutnya sambil menatapnya mesra: “Sin-Koko, bukankah sudah ku katakan bahwa aku hanya mau di miliki oleh pemuda yang sanggup mengalahkanku, asalkan selamanya kau baik padaku, aku…aku takkan menyesal menjadi milikmu…”
Hong Sin terharu sekali. Tangannya memegang tangan gadis itu dan meremasnya serta menatapnya penuh selidik: “Eh, Goat-moi, namaku masih tercemar dan belum lolos dari tuduhan…apakah itu tidak berpengaruh bagimu…?”
“Hmm, saat aku mengakui di depan umum bahwa kau sepanjang malam bersamaku, aku sudah mempertimbangkanya masak-masak dan aku percaya kau tidak melakukannya. Aku yakin pandanganku tidak salah apalagi saat ku lihat kau tidak menurunkan tangan jahat pada mereka…Eh, apa aku perlu membuktikan keyakinanku itu…?”
“Tidak perlu, justru akulah yang akan membuktikannya…” Sehabis berkata demikian kedua tangannya bergerak menggendong tubuh bugil yang sintal itu melesat keluar dari sungai sambil berkelebat ke belakang air terjun yang ada di situ.
Rupanya dengan Ilmu Hud-Kiam-Gan (Mata Pedang Budha)nya, dia telah mengawasi wilayah sekitar tempat itu dan yakin tidak ada seorangpun di situ. Dia juga telah mendapati bahwa di belakang air terjun itu ada goa yang cukup luas.
Goa itu cukup luas di punuhi rumput liar yang padat, tampak sekali itu adalah gua alam yang tak pernah di jamah. di lihatnya sekilas terdapat batu sebesar gajah di tengah-tengah goa. Dia menurunkan kaki gadis itu ke tanah kemudian tangan kanannya bergerak kearah batu tersebut. Di lain saat telah di kerahkannya hawa Im-Yang Tok-Kiam-ci di ujung jarinya kemudian memukul mendartar kearah batu tersebut. Akibatnya sungguh hebat. Batu itu terpotong bagian tengahnya secara mencatar sehingga sisa setengah ke bawa menyerupai dipan batu yang cukup besar.
Sambil tersenyum Hong Sin kembali memondong gadis cantik yang hanya pasrah saja sambil memandang kepadanya dengan tersenyum kemudian membaringkannya di atas dipan batu tersebut. Di lain saat tubuhnya telah menindih tubuh gadis itu. Sementara kedua tangan tak henti-henti meremas, mengelus, memilin, mencium bahkan mulut dan lidahnyapun bekerja menggigit, menjilat dan menghisap seluruh tubuh molek itu, terutama sepasang payudaranya yang membusung kencang itu dengan tak bosan-bosannya sampai akhirnya…
“Aaaaakhhhh…ooooohhhhss…” Terdengar suara memekik dan gerakan mengejang dari gadis itu saat sesuatu benda yang besar, panjang dan tumpul dengan berani memenuhi miliknya yang paling berharga. Walaupun awalnya sedikit perih, namun lama-kelamaan gesekan benda yang besar dan tumpul itu memberikan kenikmatan yang amat sangat sehingga gadis itu yang baru pertama kali merasakannya, mulai mengerang dan merintih panjang-pendek mengikuti dengusan nafas pemuda yang sedang menggumulinya dengan hebat smpai akhirnya keduanya mengejang hebat pada puncaknya.
Tidak tahu berapa lama adegan ini berlangsung berulang-ulang. Tidak tahu berapa kali adegan puncak ini terjadi,tiga hari berlalu dengan lambat tapi pasti. Saat Hong Sin sadar dari tidurnya pada hari berikutnya, tubuh molek yang di gelutinya selama hamper tiga hari itu sudah tidak ada lagi di sampingnya, sementara di samping kepalanya di gantikan oleh seperangkat pakaian putih yang masih baru.
Dia menyambar seperangkat pakaian tersebut yang sangat cocok sekali dengan perawakannya yang gagah dan memakainya. Saat itu juga matanya menangkap goresan huruf-huruh yang kecil dan indah di bawah pakaian, berbunyi:
“Sin-Koko, aku sungguh bahagia bisa mencintaimu,
namun kita belum boleh bersama karena banyak tugas yang menanti,
jagalah dirimu baik-baik sampai kita bertemu lagi…”
Istrimu tercinta: Goat Hui Hwa
Hong Sin termenung memandangi tulisan itu, dia teringat kembali semua kejadian awal pertemuan mereka bahkan peristiwa hamper tiga hari ini. Masih terasa semua kenikmatan yang dia rasakan dari tubuh indah gadis cantik yang memikat itu. Anehnya, mereka telah menjadi suami istri, namun dia hanya sedikit saja mengetahui tentang gadis itu. Tiba-tiba dia tersentak kaget. Cepat tubuhnya berkelebat keluar gua. Sesampainya di luar cepat dia mengerahkan “Langkah Angin Menembus Langit” meloncat tinggi ke udara kemudian tubuhnya berputar sambil matanya di arahkan di kejauhan dengan ilmu Hud-Kiam-Gan (Mata Pedang Budha).
Saat tubuhnya melayang turun, segera dia berkelebat kearah selatan dengan sangat cepat. Hatinya belum yakin, namun dia tetap ingin membuktikan penglihatannya. Dia berharap dapat menemukan Hui Hwa di tempat itu. Beberapa saat kemudian tubuhnya berhenti di atas sebuah pohon rimbun yang tinggi. Sambil menatap ke bawah, bukan Hui Hwa yang di lihatnya melainkan seorang gadis lain yang amat cantik berpakaian serba biru sedang bertarung melawan tujuh orang pengawal Topeng Perak dan dua Topeng Emas yang sakti.
Sekilas dia mengamati pertempuran itu hatinya lega, meskipun gempuran kesembilan orang bertopeng itu sangat dahsyat, namun pertahanan gadis cantik itu juga tidak kalah hebatnya. Nampaknya tidak akan kalah dalam ratusan jurus kedepan. Diam-diam dia membandingkan: “Hmm, kepandaian gadis ini tak kalah dengan Hwa-moi…siapa dia?”
Sementara gadis cantik berpakaian biru itu berkelebat dengan amat cepat melayani semua serangan para penyerangnya, tangannya berubah-ubah warna menjadi tujuh warna yang silih berganti menempur lawannya. Hong Sin terkejut karena sepengetahuannya ilmu seperti itu adalah Cui-Beng Chit-Seng-Khi (Hawa Tujuh Bintang Pengejar Nyawa) yang amat sakti. Hatinya kagum bukan main.
Memang gadis itu, bukan lain adalah Seng Lin Hong, murid dari Ang-I-Giam-Sian (Dewa Neraka Berjubah Merah) Tek Kun yang merupakan salah satu dari Bulim Su-Sian yang amat terkenal.
Gadis itu bertempur dengan gagah dan tak kenal takut. Ratusan jurus kemudian pertempuran masih berjalan seimbng, tampaknya gadis itu juga sulit memperoleh kemenangan dengan mudah. Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dari ke Sembilan pengurungnya, di lain saat tempat itu telah di penuhi dengan kabut asap beracun. Rupanya kesembilan lawannya itu telah melepaskan berbagai bom asap serta pukulan-pukulan yang mengandung racun yang dahsyat...
Bersambung....